Rumah adaptif merupakan inovasi dalam desain arsitektur. Foto: Shutterstock
Rumah adaptif merupakan inovasi dalam desain arsitektur. Foto: Shutterstock

Desain Rumah yang Cocok di Masa Pandemi

Properti desain interior Arsitektur Unik tips rumah
Antara • 05 Agustus 2020 20:37
Jakarta: Perubahan desain hunian di masa pandemi covid-19 tak bisa dihindari. Kesehatan menjadi salah satu faktor penting yang wajib ada dalam sebuah desain.
 
Selain itu, pandemi juga 'memaksa' masyarakat untuk berdiam diri di rumah lebih lama. Untuk itu, penting memiliki hunian yang dapat mengakomodasi segala kegiatan di rumah, termasuk bekerja.
 
Rumah adaptif merupakan inovasi dalam desain arsitektur yang memasukkan faktor kesehatan. Ada kecenderungan perubahan gaya hidup baru di kalangan masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Presiden Direktur PT Aesler Grup International (Aesler) Jang Rony Yuwono mengatakan banyak warga Jakarta yang meminta untuk menyesuaikan desain rumahnya agar sesuai dengan penerapan work from home (wfh).
 
Bagi Aesler, kata Jang Rony, merebaknya virus korona adalah tantangan tersendiri untuk menghadirkan desain arsitektur ruang yang lebih kreatif dan mengintegrasikan pola hidup baru.
 
Untuk menghadapi berbagai kejadian tidak terduga seperti pandemi korona ini, Aesler sudah menyiapkan desain hunian dengan konsep yang mereka sebut "future proofing ???????homes".
 
Konsep ini merupakan bangunan yang didesain dengan pola pikir "antisipasi" terhadap kejadian tidak terduga di masa depan. Desain itu harus mampu meminimalisasi shock effect dan physical stresses yang terjadi akibat kejadian tidak terduga tersebut.
 
Konsep ini berbeda dengan yang selama ini diusung oleh beberapa arsitek lainnya, yang notabene kebanyakan memberikan solusi sebatas ruang-ruang dengan social distancing ataupun pencegahan melalui penggunaan sekat ruang.
 
Lebih dari sekadar kejadian insidental, Jang Rony memahami bahwa kejadian seperti covid-19 bisa saja terjadi rutin bahkan menjadi siklus tahunan dalam bentuk berbeda.
 
Karena itu, ketika mendesain sebuah hunian berskala besar, seorang arsitek juga harus memikirkan berbagai kemungkinan krisis seperti pangan dan ekonomi. Bahkan politik dan lain-lain yang akan memengaruhi pola hidup dan produk hunian.
 
Lalu bagaimanakah desain hunian "future proofing homes"? Jang Rony mengatakan apabila hunian itu merupakan kawasan perumahan harus dipastikan apakah memiliki fasilitas lengkap sehingga saat terjadi wabah penghuni tidak perlu keluar dari lingkungan.
 
Kemudian dalam hunian/atau rumah itu harus diperbanyak kesan di luar rumah untuk menghindarkan kejenuhan, sediakan ruang belajar dan ruang bekerja. Penting pemanfaatan ruang tengah dan dapur serta terakhir berikan sentuhan penghijauan sebagai paru-paru rumah.
 
Produk properti yang didesain dengan konsep ini mampu menjadi "resilient" atau "tahan banting" terhadap risiko akibat kejadian tidak terduga di masa depan.
 
Karya desain arsitektur Aesler bisa dilihat pada proyek pencakar langit seperti Skysuites di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan dan Meisterstadt Batam, yang digagas oleh Almarhum Presiden RI BJ Habibie yang memang didesain untuk mampu beradaptasi terhadap berbagai kondisi di luar lingkungannya.
 
Jang siap untuk menyesuaikan desain arsitektur di Jakarta agar sesuai dengan kebutuhan dalam menghadapi wabah covid-19. Dengan sentuhan rumah adaptif diharapkan desain hunian yang 'mungkin' membosankan bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan, bahkan penghuni betah berlama-lama di rumah tidak lagi mencari teman untuk kumpul-kumpul.
 
(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif