Rumah murah selamatkan bisnis properti
Skema pembiayaan murah jadi andalan penjualan unit rumah murah yang ditujukan kepada segme bawah. Antara Foto/M Hamzah
Jakarta: Kondisi industri properti tidak lepaskan dari kondisi ekonomi nasional. Terutama imbas perubahan Gross Development Value (GDV) growth dibandingkan kenaikan suku bunga atau pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kalau yang lain naik (suku bunga dan rupiah), tapi GDP masih bisa di-sustain, maka industri properti tidak akan terkena imbas. Sebaliknya, jika GDP yang berubah maka akan berpengaruh ke industri properti," ungkap Head of Advisory JLL Indonesia, Vivien Harsanto di BEI, Rabu (18/7/2018).


Meski industri properti belum bangkit, namun tidak semua segmen di industri properti mengalami kelesuan. Perumahan merupakan segmen paling stabil karena rumah menjadi salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi.

"Tapi tergantung harga dan bagaimana metode pembayaran yang ditawarkan pengembang. Misalnya ada cicilan untuk uang muka sampai 12 kali. Kemudian affordibility yang harus dikemas dengan baik," jelasnya.

Rumah jadi incaran

Pasar perumahan di segmen menengah ke bawah diyakini Vivien masih bergerak. Para developer terus menggarap ceruk pasar yang paling banyak peminatnya tersebut.

Sementara itu, harga yang masih banyak diburu pembeli berkisar antara Rp 300 juta hingga Rp1,5 miliar untuk wilayah pinggiran Jakarta. Permintaan terkuat masih untuk landed house meski pasokan apartemen murah juga mulai melimpah.

"Pasar lesu itu di segmen tertentu. Di segmen bawah masih ada pergerakan, pasar ini masih gemuk danyang masih bergerak," ungkapnya.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id