Reichstag, Gedung Parlemen yang Destinasi Wisata
Pengunjung menyusuri sisi luar kubah kaca Reichstag (1/11/2018). Gedung parlemen ini adalah obyek wisata terpopuler ke dua di Berlin. AFP Photo/John Macdougall
Berlin: Di Paris ada Menara Eiffel dan Italy ada Menara Pisa yang jadi jujugan wisatawan, maka Berlin ada Reichstag. Sebuah bangunan bersejarah yang sehari-harinya merupakan gedung parlemen Jerman tersebut merupakan obyek wisata terkemuka di sana.

Tampak dari luar, Der Reichstag tak ubahnya gedung tua lainnya. Daya tarinya ada di dalam, yaitu kubah transparan yang berada di atap gedung. Kubah tersebut dibuat dengan teknologi tinggi dan terlihat futuristik.


Der Reichstag dibangun pada masa kekaisaran Jerman yang sejak itu sudah berfungsi sebagai gedung parlemen. Setelah 10 tahun pembangunan, bangunan bergaya neoklasik tersebut akhirnya rampung pada 1894.


Kubah kaca yang futuristisk ini nampak kontras dengan ekterior gedung yang masih dipertahankan bentuk aslinya, termasuk bagian rusak akibat perang. AFP Photo/John Macdougall

Penuh kontroversi

Reichstag jadi kontroversial bahkan sebelum dibangun. Pemerintah mengumumkan kompetisi mendesain bangunan pada 1871, lahan yang dipilih milik Edward Bernard Raczy?ski, seorang diplomat dari Polandia. Penolakan Raczy?ski untuk menjual tanahnya menjadi kontroversi pertama.

Selanjutnya, kontroversi atas pemilihan arsitek setengah Rusia dalam kompetisi desain, kemajuan yang tertunda. Baru setelah kompetisi desain kedua, arsitek yang dipilih hanyalah yang berbahasa Jerman - dimenangkan oleh Paul Wallot.


Sejak dihentikan penggunannnya pada era Hitler, gedung ini terlantar. Pekerjaan renovasi yang mulai dilakukan pada 60 tahun kemudian, juga berjalan lambat karena lokasi gedung berada di dekat perbatasan Jerman Barat dengan Jerman Timur. AFP Photo/John Macdougall

Pembangunan rampung pada 1894, namun tidak bertahan lama. Pada 1930-an, Adolf Hitler menuduh sekelompok Komunis dan radikal menyulut kebakaran hebat di Reichstag. Selama 60 tahun berikutnya, gedung tersebut nyaris tidak digunakan.

Selama Perang Dunia II, gedung yang telah rusak tersebut hanya digunakan sebagai foto propaganda oleh Soviet.  Upaya restorasi dilakukan perlahan-lahan setelah perang karena posisi gedung saat itu berada di dekat Tembok Berlin. Barulah pada 1958 bisa Reichstag direkonstruksi tapi tanpa kubah.

Lahir kembali

Pembangunan kembali dimulai pada 1995, saat itu arsitek yang ditunjuk adalah Foster + Partners. Pada 1992, Norman Foster adalah salah satu dari empat belas perusahaan non-Jerman yang diundang untuk berpartisipasi untuk merehabilitasi gedung Reichstag bersama dengan 80 arsitek Jerman.


Corong kaca raksasa ini mengingkat kepada para anggota parlemen bahwa mereka adalah wakil dan pelayan bagi rakyat. AFP Photo/John Macdougall

Di dalam kompetisi kali ini, Foster mengajukan desain kanopi baja dan kaca yang menutupi struktur aslinya. Keputusan akhir adalah mempertahankan fasad sebagai penghormatan terhadap nilai sejarahnya. Salah satunya adalah tembok yang dikoyak  perang dan coretan para tentara Soviet pemenang perang.

Tetapi interior Reichstag dirombak total. Di atap dibuat kubah dengan sebuah struktur masif berbentuk corong menyembul dari kubah dengan kaca yang memantulkan cahaya ke seluruh kubah.

Kubah dan corong itu melambangkan pergeseran politik Jerman dari tirani ke transparansi.
Kubah yang terbuka untuk umum ini menjadi pengingat bawah rakyat berada “di atas” para politisi yang duduk di bawah.

Pada bagian atap terdapat sebuah restoran yang dibuka untuk umum dan menjadikan Reichstag sebagai satu-satunya gedung parlementer menyediakan restoran yang bebas warga kunjungi.

Seperti ide-ide renovasi Reichstag menarik diterapkan di Senayan.


 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id