Jaman Berubah, Peritel Harus Berubah
Kegiatan belajar menari bersama di atrium FX Mall, Senaya, pada setiap akhir pekan. MI/Bary
Jakarta: Pusat perbelanjaan harus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Bila tidak, sudah pasti konsumen akan meninggalkannya karena kebutuhan yang mereka cari tidak mereka temukan. 

"Zaman berubah, minat orang juga berubah. Dulu datang ke pusat perbelanjaan untuk belanja saja, sekarang inginnya ada experience-nya," kata Ketua Umum DPP APPBI A. Stefanus Ridwan usai Rakernas di Sheraton Grand Jakarta, Kamis (12/4/2018).


Menurutnya, perubahan tersebut seiring dengan berkembangnya penggunaan media sosial. Penggunaannya juga membawa perubahan terhadap perilaku masyarakat saat ini.

"Sekarang ini mereka makan, upload di sosial media. Semua diupload. Ini yang harus ditangkap pengusaha ritel, mereka bukan saja harus kreatif tetapi super kreatif agar tidak ditinggal pembeli," jelasnya.

Salah satu jurus pengelola pusat perbelanjaan adalah memiliki event-event tertentu untuk menarik minat pengunjung. Bahkan event untuk komunitas yang cakupannya sangat spesifik. Stefanus ingatkan bahwa apa pun event-nya, harus disesuaikan dengan target market pengunjung.

"Pengunjung sekarang mereka datang ingin merasakan hal yang luar biasa. Misalnya sediakan tempat untuk swafoto, tambah patung-patung dan buang yang tidak perlu," tambahnya.

Event dan suasana bisa menjadi andalan pusat perbelanjaan bersaing dengan marketplace dan lapak online. Bahkan pelaku ritel online bisa membuka outlet di pusat perbelanjaan agar lebih dikenal dan dekat dengan pembeli, seperti sistem yang diterapkan Omnichannel.

Sistem yang diterapkan Omnichannel memudahkan pelanggan menggunakan lebih dari satu channel penjualan. Ada toko fisik, e-Commerce/internet, mobile (m-Commerce), social commerce, melakukan riset, membeli, mendapatkan dan mengembalikan atau menukar barang dari peritel, terlepas dari channel penjualan yang digunakan.

Tidak hanya soal digital, biasanya untuk meningkatkan loyalitas pelanggan pengelola juga sudah mulai memberikan membership. Selain itu, pengelola juga sudah mulai melakukan pendataan agar produknya lebih cocok dengan target market.

"Beberapa sudah mulai bikin data-data custumer. Hal itu penting agar produk dan tenant di pusat belanja sesuai dan relevan. Pengelola mulai bikin satu sistem database. Ini masih transisi, pemerintah juga harus mengerti bahwa transisi butuh support," kata Stefanus.
 



(LHE)