Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo di Provinsi NTT. Foto: Kementerian PUPR
Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Labuan Bajo di Provinsi NTT. Foto: Kementerian PUPR

Desain Infrastruktur Juga Perlu Estetis

Properti pembangunan infrastruktur konstruksi Desain jembatan Kementerian PUPR
Rizkie Fauzian • 28 Juli 2021 19:36
Jakarta: Infrastruktur merupakan bagian dari peradaban yang terus berkembang dan berevolusi. Dalam membangun infrastruktur, tak hanya memperhatikan kelayakan secara teknis (technically feasible) dan ekonomis (economically viable), melainkan juga dapat diterima secara social-budaya (socio-culturally acceptable).
 
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan infrastruktur juga perlu pertimbangan sosial-budaya, termasuk seni mulai dari survei, investigasi, perencanaan dan desain, pengadaan tanah, pelelangan, konstruksi hingga operasi dan pemeliharaan asset. 
 
"Dengan kata lain, pembangunan infrastruktur dan bangunan tidak hanya harus memenuhi aspek teknis konstruksi dan aspek fungsional, namun juga memperhatikan aspek estetika yang bersumber dari unsur seni dan kearifan budaya lokal," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Juli 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, sentuhan seni dalam infrastruktur dan bangunan gedung akan memberi nilai tambah, membangun ikatan sosial dengan penggunanya, serta memperkuat rasa memiliki dan kebanggaan terhadap infrastruktur tersebut. 
 
Dalam hal ini, Bali merupakan salah satu contoh yang baik, bagaimana unsur seni secara turun-temurun mempengaruhi beragam unsur kehidupan secara kental, termasuk infrastruktur. 
 
"Kita tahu kalau orang awam menyampaikan di Bali tidak ada kayu atau batu yang dibiarkan tergeletak tanpa sentuhan seni para seniman Bali. Salah satu contoh kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang dulu sisa-sisa tambang batu kapur sekarang menjadi destinasi pariwisara yang mendunia berkat sentuhan seniman Bali," ujarnya.
 
Lebih lanjut, Menteri Basuki mengatakan dalam pembangunan infrastruktur setidaknya terdapat empat atribut atau nilai seni yang dapat diidentifikasi dan elaborasi lebih jauh. 
 
Pertama membangun daya cipta/imajinasi masyarakat yang bersumber dari ilmu pengetahuan, riset dan teknologi, agama maupun keyakinan. Kedua, nilai seni memiliki orisinalitas yang merupakan upaya menemukan ide-ide genial untuk diwujudkan menjadi karya yang diakui publik. 
 
"Saya menyamakan seniman dengan olahragawan. Olahragawan selalu menjunjung sportivitas, seniman akan selalu menghasilkan orisinalitas dan pasti akan menjauhi plagiarism," ungkapnya.
 
Ketiga, nilai seni dalam pembangunan infrastuktur adalah untuk membangun identitas, baik kota, kawasan, maupun bangunan gedung. Identitas dapat menjadi penciri yang unik, yang membedakan era pembangunan infrastruktur. 
 
Keempat, inovasi dalam pembangunan infrastruktur. Secara sederhana, inovasi dapat diartikan sebagai pemanfaatan seni untuk menciptakan atau memperbaiki kualitas infrastruktur sehingga memberikan makna baru yang lebih signifikan terhadap fungsi sosial-ekonomi dan budaya. 
 
Basuki menambahkan, dengan seni maka infrastruktur publik sebagai unsur pembentuk ruang-ruang kota dan kawasan tidak lagi kering, monoton dan menjemukan seperti kota yang penuh ruko. Sebaliknya, kota akan kaya dengan sentuhan estetik dan ikonik yang membuatnya berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.
 
"Nilai seni pada infrastruktur publik juga dapat meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap infrastruktur. Selain itu, juga akan mampu menggugah rasa memiliki masyarakat untuk merawat dan menjaga infrastruktur publik sehingga dapat meningkatkan kebermanfaatan dan keberlanjutan infrastruktur publik tersebut," ujar Basuki.
 
(KIE)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif