Marak penipuan perumahan berkedok syariah. Foto: Shutterstock
Marak penipuan perumahan berkedok syariah. Foto: Shutterstock

Penipuan Rumah Syariah, Pengembang Baru Tak Bermodal

Properti penipuan perumahan Tips Properti
Rizkie Fauzian • 19 Desember 2019 13:47
Jakarta: Membeli rumah dengan harga murah tanpa cicilan, tanpa bunga, tanpa riba dan tanpa pengecekan dari bank (BI Checking) tentu membuat konsumen sangat tertarik. Hal ini membuat pengembang-pengembang baru beralih dengan embel-embel syariah.
 
Ternyata banyak konsumen yang menjadi korban penipuan perumahan syariah ini. Dalam dua bulan terakhir, Polda Metro Jaya mengungkap dua kasus penipuan penjualan rumah syariah di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
 
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, terlepas dari motif penipuan murni, terdapat beberapa hal yang disinyalir menjadi penyebab fatalnya kesalahan para pengembang pemula tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebagian besar pengembang perumahan syariah tersebut merupakan orang yang belum berpengalaman dalam bisnis perumahan. Banyak teori bisnis properti yang mengutamakan tanpa modal sehingga semuanya dianggap mudah," jelasnya dalam keterangan, Kamis, 19 Desember 2019.
 
Ali menjelaskan, praktek perumahan syariah juga umumnya belum mempunyai kepemilikan lahan. Artinya lahan yang ada masih di cicil kepada pemilik lahan. Pengembang biasanya hanya membayar uang muka dan dijanjikan akan dibayar dalam jangka waktu tertentu.
 
"Nah, para pengembang dengan kesepakatan tertentu mulai bisa memasarkan rumahnya. Dengan asumsi hitung-hitungan di atas kertas, rasanya dengan mengumpulkan uang dari konsumen bisa untuk membangun secara perlahan-lahan," kata Ali.
 
Namun ternyata tidak semudah itu, karena dalam bisnis perumahan pengaturan cashflow akan sangat krusial. Dengan banyaknya konsumen yang sudah membayar uang muka, pengembang pun harus mulai membangun, namun ternyata butuh biaya yang besar untuk membangun.
 
"Masalah pun mulai berlanjut. Mereka pun tidak dapat mencari modal lagi dari investor lain termasuk dari bank. Semakin lama janji semakin tidak ditepati. Dan umumnya mereka pun tidak tahu cara manajemen proyek yang baik dan tidak didukung dengan modal yang cukup," ujarnya.
 
Di satu sisi uang konsumen dalam jumlah besar yang sudah masuk ke rekening pengembang kadang menjadi ‘uang panas’ sehingga banyak yang menggunakan uang tersebut untuk membayar uang muka lahan lain, bahkan ada yang menggunakannya untuk membeli rumah dan mobil. Alih-alih membangun rumah, pengembang makin lama menjadi makin terpuruk.
 
Jadi terlepas dari motif murni penipuan, banyak faktor yang membuat para pengembang pemula ini menjadi khilaf dan akhirnya berakhir dengan tindakan menipu konsumen. Disengaja atau tidak tetap hal tersebut memenuhi unsur penipuan.
 
"Konsumen harus waspada tidak tergiur dengan harga murah. Karena mengembangkan bisnis perumahan tidak semudah yang dibayangkan. Tidak ada yang salah dengan konsep syariah, namun dalam mengembangkan proyek perumahan yang padat modal tetap perlu pengaturan manajemen yang baik," ungkap Ali.

 

(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif