"Ini salah satu sektor yang berjuang mencapai kondisi ideal. Developer sudah mulai hati-hati. Mereka menjual produk (apartemen), tapi diserapnya belum baik," ujar Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto, pada acara diskusi di WTC, Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.
Menurut Ferry, para pengembang tidak akan terburu-buru membangun proyek apartemen terutama saat kondisi pasar masih lesu. Hal tersebut akan memengaruhi pendapatan perusahaan.
"Proyeksi awal tahun pasar terkoreksi, akhirnya pengembang mulai berpikir ulang. Ada indikasi beberapa developer mulai berpikir mengembangkan hunian landed (rumah tapak)," ucapnya.
Bukan hanya itu, para pengembang asing juga mulai membidik segmen menengah ke bawah. Pengembang asing melihat segmen menengah ke bawah sebagai sebuah peluang baru.
"Developer asing juga berpikir ini peluang masuk ke segmen lebih bawah karena tingkat serapannya lebih baik dibandingkan segmen menengah atas," katanya menjelaskan.
Sementara itu, kebijakan pemerintah membebaskan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada sektor properti hingga Rp30 miliar, dinilai belum berdampak signifikan.
"Kita belum lihat apartemen kelas mewah meningkat. Karena produk ini biasanya dijadikan instrumen investasi dibandingkan hunian. Harga sewa terkoreksi, market sewa berkurang, investasi apartemen kelas atas belum terlihat menarik bagi investor," kata Ferry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News