Menyulap situs perang jadi apartemen
Konsep desainnya adalah membangun sebuah landmark yang punya fungsi komersial dan sosial. dezeen/ Silviya Barzakova
Malta: Bangunan pencakar langit bakal menghiasi Malta, sebuah negara kepulauan di Eropa Selatan. Jika rampung, bangunan setinggi 112 meter tersebut menjadi yang tertinggi.

Mercury House merupakan situs bersejarah yang terlantar lebih dari 20 tahun. Duet arsitek (alm) Zaha Hadid dan Patrik Schumacher tidak hanya merenovasi, tetapi membangun kembali bangunan bekas fasilitas militer dalam masa perang dingin tersebut.


Fasad dan interior asli yang tersisa bangunan asli yang dibangun pada 1903 ini dipertahankan. Di salah satu sisinya ditambahkan gedung 31 lantai yang akan digunakan sebagai apartemen dan hotel.



Bangunan ini juga dirancang sejajar dengan permukaan jalan untuk lebih terintegrasi dengan lingkungan perkotaan. Bagian fasad dihiasi kaca, tujuannya agar wilayah perkotaan dapat menerima sinar matahari secara langsung.

"Ada dua volume bangunan yang ditumpuk vertikal. Tidak hanya ditata ulang, bangunan ini juga memiliki fungsi baru lainnya," kata salah seorang arsitek dari biro ZHA seperti dilansir dezeen, Senin (6/8/2018).

Mercury House memiliki volume bangunan yang berbeda sebagai pemisah antara apartemen dan hotel. Tiga lantai pertama adalah transisional yang digunakan sebagai lobby hotel dan kolam renang outdoor dengan pemandangan laut.



"Menciptakan ruang publik baru dan fasilitas bagi penduduk pulau ini, desain bangunan merespon tantangan utama kota Paceville terkait pasokan rumah yang terbatas," jelas arsitek ZHA.


 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id