Kapsul untuk yang mengantuk
Kapsul tidur yang diimpor dalam bentuk CKD dari Tiongkok ini punya desain futuristik.
Jakarta:Melihat dimensinya, kapsul yang ini tidak untuk dimimun layaknya kapsul di tempat obat. Tetapi untuk ditiduri. Itu karena kapsul yang ini pada dasarnya adalah sebuah kamar tidur portable.

Panjangnya sekitar 2,5 meter dengan lebar 1 meter dan tinggi 1,5 meter. Bila pintu gesernya dibuka, di dalamnya nampak ada selembar kasur yang pas untuk satu orang dan terlalu pas-pasan untuk berdua. Tinggi langit-langit membuat penghuninya masih bisa duduk selonjoran yang nyaman.


Layaknya sebuah kamar maka kapsul tidur juga dilengkapi dengan cermin, steker listrik bahkan televisi dan sebuah meja lipat. Namun mengingat ukurannya, tidak ada lemari pakaian di dalamnya, tetapi masih bisa untuk menggantungkan pakaian.

"Harga per unit Rp 50-an juta sampai Rp 100-an juta," kata marketing Capsule Indonesia kepada Medcom.id saat ditemui di Pameran Indobuiltech Ice BSD, Tangerang Selatan.



Perbedaan harga itu berdasarkan desain, dimensi dan fasiltasnya. Ada ukuran single, queen size, king size dan unit susun. Di setiap unitnya yang kedap suara memiliki fasilitas pengatur AD, safe deposit box, alarm, port USB dan tabung pemadam api.

Trend kapsul tidur berkembang pesat di kota-kota besar di Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok. Ada yang difungsikan sebagai penginapan murah meriah bagi para wisawatan backpacker atau tempat istirahat sejenak di dekat stasiun kereta api atau terminal bus bagi para penglaju.

Ada pula yang memasang kapsul tidur di perkantoran sebagai tempat istirahat para karyawan. Bahkan ada co-working space yang melengkapi dirinya dengan kapsul tidur sebagai layanan tambahan bagi pelanggannya untuk merebah diri atau ingin bekerja sambil bersantai atas kasur.

baca juga: Tiduran seru dalam rak buku

Di kota padat dengan harga property setinggi langit seperti New York dan Hong Kong, kapsul tidur dimanfaatkan sebagai kamar tambahan di dalam unit apartemen. Ini terlebih bila dalam unit apartemen bersangkutan ditinggali oleh banyak anggota keluarga dewasa yang membutuhkan privacy.

Sedangkan di Indonesia, penggunannya lebih banyak sebagai penginapan murah meriah. Sudah ada di Jakarta, Surabaya dan tentunya Bali yang memiliki populasi wisatawan backpacker sangat banyak.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id