Bagaimana Penjualan Properti Jelang Akhir 2018?
Beberapa wira niaga dan calon pembeli berdiri di atas denah sebuah proyek kota satelit baru yang sedang dikembangkan di pinggiran Jakarta. Antara Foto/Risky Andrianto
Jakarta:Kondisi properti saat ini diyakini masih mengalami perlambatan, terutama bagi segmen hunian menengah atas. Lantas bagaimana laporan keuangan pengembang properti di kuartal III-2018?

PT Lippo Cikarang (LPCK) mencatat pendapatan rumah hunian dan apartemen turun 24 persen menjadi Rp 717 miliar. Sementara pendapatan dari industri dan komersil sebesar Rp 875 miliar.


Sementara total pendapatan sebesar Rp 1,84 trilIun meningkat 50 persen dari periode yang sama 2017, Laba Kotor Rp 1,05 triliun, naik 102 persen. Laba bersih sebesar Rp 2,90 triliun.

"Hasil kuartal ketiga 2018 kurang memenuhi harapan terutama karena pasar melemah selama periode tersebut," kata Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Simon Subiyanto.


Di sisi lain, penghasilan berulang LPCK meningkat menjadi Rp 247 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 209 miliar. Total Aset menurun dari R p12,4 triliun menjadi Rp 9,4 triliun masing-masing pada 31 Desember 2017 dan 30 September 2018.

PT Intiland Development Tbk (DILD) mencatat penurunan laba bersih sebesar 47 persen menjadi Rp123 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 233 miliar. Selain itu, laba usaha juga turun 20,6 persen menjadi Rp 202,1 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Laba bersih turun terutama karena meningkatnya beban bunga pinjaman untuk modal kerja penyelesaian konstruksi proyek-proyek. Faktor lainnya karena adanya penurunan margin laba kotor yang disebabkan adanya penjualan non-core asset dan meningkatnya beban penjualan," jelas Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Archied Noto Pradono.

Meski laba mengalami penurunan, namun pendapatan usaha naik 40 persen menjadi Rp 2,4 triliun dibandingkan periode yang sama di 2017 sebesar Rp 1,7 triliun. Segmen pengembangan mixed-use & high rise mencatatkan kontribusi pendapatan usaha sebesar Rp 729,1 miliar atau 30 persen dari keseluruhan.

Ditinjau berdasarkan tipe sumber pendapatan usahanya, pendapatan pengembangan (development income) memberikan kontribusi Rp2 triliun atau mencapai 82 persen dari keseluruhan. Sisanya berasal dari segmen recurring income yang tercatat sebesar Rp 430,6 miliar atau memberikan kontribusi sekitar 18 persen.


"Secara keseluruhan kinerja pendapatan usaha tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu. Banyak proyek yang masuk tahap penyelesaian, sehingga hasil penjualan bisa sepenuhnya dibukukan sebagai pendapatan," kata Archied.


Meskipun pendapatan usaha meningkat, namun kinerja profitabilitas perseroan di sembilan bulan 2018 mengalami tren penurunan. Perseroan mencatatkan perolehan laba kotor sebesar Rp 719 miliar atau meningkat tipis dibandingkan periode yang sama di 2017 yang mencapai Rp 706 miliar.

PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membukukan penurunan untuk penjualan dan pendapatan usaha sebesar 30,3 persen menjadi Rp 3,8 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 5,4 triliun.

Sementara pendapatan berulang turun 6,0 persen dari Rp 1,2 triliun menjadi Rp 1,2 triliun. Perusahaan membukukan laba kotor sebesar Rp 1,8 triliun pada atau turun 30,3 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,6 triliun.

Laba komprehensif turun 49 persen dari Rp 987,1 miliar menjadi Rp 503,9, sedangkan laba komprehensif yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 40,1 persen dari Rp 548,5 miliar menjadi Rp 328,4 miliar.

Laba komprehensif dari penjualan lahan industri sebesar Rp 788,7 miliar pada tahun lalu. Perusahaan membukukan penjualan pemasaran (marketing sales) sebesar Rp 1,9 trilun atau turun 30,9 persen dari Rp 2,7 triliun.



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id