Tren Perkantoran 2018 Kembali ke CBD
Deretan gedung pencakar langit di sebuah CBD. andersongroup
Jakarta: Generasi milenial menjadi pusat perhatian dan harapan sektor properti, tidak terkecuali bisnis perkantoran. Bahkan generasi yang produktif dan kreatif ini bahkan diyakini mampu mempengaruhi pembangunan dan penjualan ruang kantor 2018.

Di dalam hasil risetnya, konsultan properti Savills Indonesia mengungkapkan perkantoran di pinggiran kota dan non central business district (non CBD) akan ditinggalkan. Alasannya generasi milenial lebih senang berada di perkotaan, bila tidak mampu tinggal di tengah kota paling tidak tempat kerjanya di kawasan CBD yang lengkap fasilitas hiburan.

“Mereka itu lebih menginginkan urban location, jadi kemungkinan tahun depan dari Simatupang bisa pindah lagi ke kawasan CBD.  Orang-orang sekarang kan maunya balance, jadi fitnes centre dan tempat yoga laku,” kata Kepala Departemen Riset Savills Indonesia Anton Sitorus.

Tren ini kebalikan dari dekade terakhir. Mulai 2005 banyak perusahaan yang sebelumnya berkantor di CBD justru berpindah ke luar dengan alasan efisiensi sewa ruang kantor. Ada pula pengaruh dari pimpinan direksi perusahaan dari baby boomers yang lebih memilih tinggal di pinggiran kota.

Kendati demikian, pergeseran penghuni perkantoran ini baru terjadi sekitar tiga tahun mendatang. Hal tersebut boleh jadi dampak dari pembangunan proyek jalur kereta MRT dan LRT yang bakal efektif sekitar satu hingga dua tahun mendatang.

Anton menilai, kecenderungan ini sebenarnya tidak merugikan. Sebab, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah ke depan, seperti pembangunan kawasan hunian yang terhubung dengan sistem transportasi atau Transit Oriented Development (TOD).

"Tapi kalau dilihat ini sejalan, karena pemerintah sedang bangun MRT, nantinya ada TOD. Sehingga, menghemat bahan bakar minyak (BBM), polusi, kemacetan, dan lainnya," jelasnya.
 

(LHE)