Bank Dunia menilai skema subsidi perumahan di Indonesia tidak efisien. Foto: Kementerian PUPR
Bank Dunia menilai skema subsidi perumahan di Indonesia tidak efisien. Foto: Kementerian PUPR

Skema Subsidi Perumahan Dinilai Tidak Efisien

Properti bank dunia perumahan sejuta rumah Kementerian PUPR
Rizkie Fauzian • 03 Juli 2020 11:50
Jakarta: Bank Dunia (World Bank) menilai kebutuhan perumahan di Indonesia sangat besar. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan penduduk perkotaan yang semakin meningkat setiap tahunnya.
 
Dalam kajian bertajuk The World Bank's 2020 Indonesia Public Expenditure Review of Government Spending, Bank Dunia memperkirakan kebutuhan perumahan mencapai 780 ribu rumah tangga baru per tahun hingga 2045.
 
"Indonesia telah membuat kemajuan dalam mencapai target pada 2019 untuk menyediakan rumah baru dan mengurangi jumlah rumah tidak layak huni, tetapi kemajuan terkait pemenuhan backlog penghunian rumah tidak terpenuhi sesuai dengan harapan," ungkap laporan dikutip Jumat, 3 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Skema subsidi perumahan yang digunakan untuk memenuhi target kepemilikan rumah dan hunian seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Subsidi Selisih Bunga (SSB) dinilai tidak efisien.
 
Bank Dunia menganggap bahwa subsidi yang digunakan mahal (dalam hal biaya fiskal di muka dan hutang di masa depan), skema-skema tersebut menguntungkan bank dan pengembang daripada konsumen, dan membuat hengkangnya sektor swasta.
 
Sementara itu, skema BSPS Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah telah memberikan hibah kepada 40 persen rumah tangga termiskin untuk meningkatkan kualitas rumah tidak layak huni.
 
"Tetapi desain skema FLPP dan SSB bersifat regresif, tidak tepat sasaran, dan mudah mengalami kebocoran," jelas Bank Dunia dalam laporannya.
 
Subsidi perumahan juga tidak efektif dalam memenuhi tujuan Sustainable Development Goals (SDG) dalam menyediakan rumah yang inklusif, aman dan memadai bagi semua karena kelemahan dalam kualitas bangunan, desain program, dan lemahnya penegakan pedoman program.
 

(KIE)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif