Suku bunga naik, kredit macet menunggu
Wiraniaga menjelaskan proyek properti yang dijualnya kepada seorang calon pembeli dalam sebuah pameran properti. file/Antara Foto
Jakarta: Kinerja industri properti tertahan kenaikan suku bunga acuan. Bank Indonesia (BI) tercatat menaikkan suku bunga acuan hingga ke level 4,75 persen dan diperkirakan kembali menaikkan suku bunganya.

Selain suku bunga acuan, industri properti juga terkena dampak penguatan dolar Amerika Serikat. Akibatnya, penjualan properti tercatat mengalami penurunan sejak Mei 2018.


"Sejak Januari sampai Februari penjualan properti mencapai 400 ribu unit di seluruh Indonesia, setengahnya merupakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, ini menunjukkan penjualan properti stagnan," kata pengamat properti David Cornelis kepada Medcom.id.

Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan juga membuka kemungkinan naiknya angka kredit macet akibat menurunnya kemampuan masyarakat membayar cicilan. Selain itu, kredit konstruksi yang naik membuat para pengembang harus menaikkan harga jual.

"Para pengembang terpaksa harus menaikkan harga jual properti dalam beberapa waktu ke depan nanti. Pelemahan yang terjadi pada rupiah juga memengaruhi penjualan proyek properti terutama segmen menengah ke atas karena banyak menggunakan komponen impor," jelasnya.

Melihat kondisi saat ini, David meminta kepada para pengembang untuk mengambil strategi dan juga menekan keuntungan sebagai salah satu cara dalam menghadapi depresiasi nilai tukar rupiah.

"Antisipasi yang cerdas harus sedini mungkin disiapkan terhadap sinyal naiknya suku bunga acuan lanjutan. Kenaikan ini tidak hanya menghantam sektor properti, tetapi juga sektor riil," ungkap David.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id