Pergerakan harga rumah nasional pada kuartal I 2026 menunjukkan tren yang bervariasi. Foto: Freepik
Pergerakan harga rumah nasional pada kuartal I 2026 menunjukkan tren yang bervariasi. Foto: Freepik

Harga Rumah Naik-Turun di 2026, Bodetabek Justru Melesat

Rizkie Fauzian • 06 Mei 2026 17:30
Ringkasnya gini..
  • Harga rumah di Jakarta bervariasi, dipengaruhi banjir, cuaca, dan aksesibilitas wilayah.
  • Bodetabek dan Banten menjadi penopang dengan pertumbuhan kuat di segmen menengah.
  • Secara nasional, pasar properti tetap resilien meski ada koreksi terbatas di beberapa daerah.
Jakarta: Pergerakan harga rumah nasional pada kuartal I 2026 menunjukkan tren yang bervariasi di wilayah Jakarta, sementara kawasan penyangga seperti Bodetabek dan sejumlah daerah lain masih mencatat pertumbuhan, khususnya di segmen menengah.
 
Pinhome melalui Pinhome Home Sell Index (PHSI) dan Pinhome Home Rental Index (PHRI) kuartal 1 tahun 2026 mencatat sejumlah wilayah di Jakarta mengalami dinamika berbeda, dipengaruhi faktor cuaca, banjir, serta aksesibilitas.
 
Di Jakarta Utara, pertumbuhan terjadi di Cilincing dengan kenaikan hingga +3 persen untuk rumah tipe 121–200 dan +2 persen pada tipe 55–120. Sebaliknya, Tanjung Priok cenderung stagnan dengan penurunan -2 persen pada rumah tipe besar.

Jakarta Barat mencatat koreksi harga pada rumah kecil, terutama di Cengkareng dan Kembangan yang turun -3 persen, serta Kalideres -2 persen. Penurunan ini dipengaruhi banjir yang terjadi pada awal tahun.
 
Sementara itu, Jakarta Pusat mengalami tekanan harga di hampir seluruh segmen. Di Johar Baru, rumah tipe kecil turun -3 persen, sedangkan tipe menengah dan besar masing-masing terkoreksi -2 persen. Penurunan juga terjadi di Cempaka Putih dan Kemayoran akibat faktor cuaca yang memengaruhi aksesibilitas.
 
Di Jakarta Timur, pasar relatif stabil dengan kenaikan selektif. Cakung mencatat kenaikan +2 persen untuk rumah kecil, sementara Ciracas mengalami pertumbuhan hingga +3 persen untuk tipe menengah dan +2 persen untuk tipe besar, didorong akses transportasi publik.
 
Adapun Jakarta Selatan cenderung melemah akibat curah hujan tinggi yang memicu banjir di sejumlah titik. Harga rumah di Cilandak turun -2 persen untuk tipe menengah, sementara di Jagakarsa terkoreksi -3 persen.

Bodetabek dan daerah jadi penopang

Di luar Jakarta, kawasan Bodetabek dan Banten menunjukkan kinerja yang relatif stabil dengan pertumbuhan di segmen menengah. Kenaikan harga rumah tipe 121–200 tercatat di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang masing-masing +4 persen, diikuti Kota Tangerang Selatan dan Kota Tangerang +3 persen, serta Kabupaten Bogor +2 persen.
 
Namun, koreksi terbatas masih terjadi, seperti di Kota Serang (-2 persen) untuk tipe menengah dan Kota Bogor (-2 persen) untuk rumah besar.
 
Di wilayah lain Indonesia, pasar properti menunjukkan ketahanan dengan variasi pertumbuhan. Jawa Barat mencatat kenaikan di Kota Cimahi (+3 persen) berkat konektivitas transportasi, sementara beberapa wilayah lain mengalami koreksi akibat cuaca ekstrem.
 
Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menunjukkan pertumbuhan di Kabupaten Semarang (+3 persen) didukung proyek tol, meski segmen besar melemah di Surakarta dan Klaten. Jawa Timur relatif stagnan, dengan pengecualian Kota Malang yang naik +2 persen.
 
Di Bali, Denpasar mengalami penurunan -2 persen akibat kemacetan. Sementara itu, Sumatera mencatat pertumbuhan di Deli Serdang dan Pekanbaru, sedangkan Kalimantan mengalami koreksi terbatas di beberapa kota di tengah perlambatan proyek infrastruktur.
 
Adapun Sulawesi cenderung stabil dengan kenaikan tipis di Makassar sebesar +1 persen.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan