NEWSTICKER
Ilustrasi - - Foto: Antara/ Ganet Dirgantara
Ilustrasi - - Foto: Antara/ Ganet Dirgantara

Mendamba Hunian Terjangkau Rp300 Juta di Ibu Kota

Properti properti sejuta rumah
Antara • 19 Februari 2020 19:30
Jakarta: Tingginya kepadatan penduduk menyebabkan sebagian warga DKI Jakarta mengalami kendala untuk mencari hunian yang terjangkau. Apalagi memimpikan hunian dengan kisaran harga Rp150 juta sampai Rp300 juta.
 
Bahkan dalam radius megapolitan yang mencakup Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Bodetabek), hunian terjangkau juga masih sulit didapat. Padahal peminat hunian dengan rentang sebesar itu jauh dari jenuh.
 
Analis properti Ali Tranghanda menyebutkan pasar properti yang jenuh justru terjadi untuk segmen kelas atas saja. Ini yang membuat pengembang berorientasi pasar premium, lesu darah dalam beberapa tahun terakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal ini secara nyata dapat dilihat saat pameran-pameran perumahan. Justru hunian yang terjangkau, paling banyak diserbu pembeli apalagi kalau lokasinya masih dalam jangkauan kawasan Jabodetabek.
 
Pembeli hunian terjangkau ini sebagian besar juga berasal dari kalangan milenial. Kalangan milenial dengan rentang usia 25-40 tahun jumlahnya mencapai 80 persen dari total penduduk Indonesia.
 
Perbankan tentunya sudah mengendus pasar potensial perumahan itu sehingga menyiapkan strategi termasuk memanfaatkan fasilitas pinjaman subsidi dari pemerintah.

 
Salah satu bank yang tertarik untuk menggarap pasar menengah bawah itu adalah BTN yang memang difokuskan untuk pembiayaan perumahan bagi pasar tersebut.
 
Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Pahala N Mansury mengakui potensi perumahan dengan harga Rp150 juta-Rp300 juta masih jauh dari jenuh. Pahala pun menyampaikan sinyal-sinyal untuk menggarap pasar menengah bawah itu.
 
Pahala mengatakan segmen menengah ke bawah sebagai lahan subur yang siap digarap. Salah satunya akan disentuh melalui lini digital yang dikembangkan bank BUMN tersebut.

 
Data keuangan BTN menunjukkan kenaikan kredit dan pembiayaan perseroan ditopang penyaluran kredit perumahan yang tumbuh sebesar 7,32 persen (yoy) menjadi Rp229,26 triliun pada akhir kuartal IV-2019.
 
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi menjadi penyumbang utama peningkatan tersebut. KPR subsidi BTN tercatat naik 13,2 persen yoy dari Rp98,17 triliun menjadi Rp111,13 triliun pada kuartal IV-2019. Sedangkan KPR Non-subsidi juga terpantau tumbuh di level 3,71 persen yoy menjadi Rp80,64 triliun di akhir Desember 2019.
 
Data ini menunjukkan alokasi yang disediakan BTN terbesar masih merupakan KPR subsidi dan KPR nonsubsidi namun untuk pasar menengah ke bawah. Kalau melihat data ini seharusnya pengembang rumah akan fokus di pasar tersebut.
 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif