Perizinan Lambat, Pertumbuhan Properti Terhambat

Rizkie Fauzian 03 April 2018 11:09 WIB
bisnis properti
Perizinan Lambat, Pertumbuhan Properti Terhambat
Proyek rumah susun Pasar Rumput, Manggarai, Jaksel. Pembangunan rusun ini bagian dari program 1 juta rumah yang besar andilnya menggairahkan kembali pasar properti.. Antara Foto
Jakarta: Kinerja sektor properti diperkirakan akan membaik di tahun ini. Pertumbuhannya bisa mencapai 10 persen bila dibandingkan tahun lalu yang tumbuh tiga persen.

"Akhir tahun banyak pengembang yang sudah mulai bottom round naik ke atas. Di awal tahun banyak sekali proyek-proyek yang di launching, sehingga optimistis kita bisa bergerak tahun ini," kata Ketua Umum Realestate Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata di Bank Indonesia, Senin (2/4/2018).


Meski pertumbuhannya diprediksi membaik, namun menurut Soelaeman masih ada faktor yang menghambat pertumbuhan sektor properti. Salah satunya adalah perizinan yang masih lama.

"Salah satu faktor yg bisa menghambat  adalah perizinan ya, jika pemerintah pusat punya itikad baik pangkas semua perizinan ini, kita akan sambut baik. Semoga nanti di sektor properti perizinan bisa lebih mudah," jelasnya.

Perizinan saat ini masih menjadi hambatan yang dihadapi para pengembang properti. Perizinan yang berbelit-belit membuat para pengembang kesulitan menjual proyeknya.

"Karena semakin cepet implementasinya, semakin cepet dipasarkan, semakin cepet dibangun juga.  Meskipun kita pre-salling kan jual belum bangun. Tapi kalo janjinya 1 tahun, sudah bisa dinikmati bangunananya sama konsumen kan juah lebih baik. Banyak hambatan disebabkan kita tidak bisa bangun bukan karena tidak bisa jual karena perizinannya," ujarnya.

Menyinggung tahun politik yang sedang berlangsung, REI tetap pengaruhnya tidak signifikan. Optimistis properti akan tumbuh positif karena karakter politik Indonesia sudah bisa dipahami oleh dunia usaha.

"Kita sudah paham kalau kondisi ekonominya baik, kita optimistis dan tidak akan terpengaruh karena itu. Karakter politik kita sudah sangat dipahami oleh dunia usaha, kapan harus maju mundur di dunia politik," ungkapnya.

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id