Hotel Majapahit, dari Art Noveau ke Art Deco

Rizkie Fauzian 23 September 2018 12:37 WIB
hotelhari pahlawan
Hotel Majapahit, dari Art Noveau ke Art Deco
Fasad teras belakang yang cantik ini merupakan salah satu jejak gaya art noveau dan bagian terbaik hotel se. file/MI/Susanto
Jakarta:Selain sejarahnya dalam perang kemerdekaan Indonesia, hotel di jantung Surabaya ini punya sejarah arsitektur yang menarik. Dibangun sebagai hotel gaya hidup, desainya beberapa kali diubah menyesuaikan trend sedang berlangsung.

Hotel yang dibangun pada 1910 oleh pengusaha keturunan Armenia, Lucas Martin Sarkies. Keluarga besar Sarkies dalah pebisnis asal Iran yang membangun bisnis jaringan perhotelan di Asia Tenggara pada akhir abad ke-19.


Arsitek James Afprey ditunjuk sebagai desainernya. Ketika itu desain hotel yang diberi nama Oranje -diambil dari nama pahlawan Belanda yang bernama Willem van Oranje- bergaya art noveau khas bangunan kolonial Belanda.



Hotel Oranje dibangun dengan denah berbentuk huruf U. Hotel ini juga memiliki ciri khusus arsitektur kolonial Belanda, seperti warna dominan putih, bentuk jendela yang besar, pintu panjang dan atap tinggi.

Sembari memperbaiki kerusakan dampak perang, bangunan hotel seluas seribu meter persegi tersebut diubah dengan sentuhan arsitektur art deco. Sentuhan gaya art deco sangat kental terasa pada bangunan, terutama adanya ornamen-ornamen tradisional. Tanaman yang digunakan pada halaman depan menghadirkan suasana alam tropis.

baca juga: Cagar budaya bersejarah dengan 7 nama

Memasuki bagian lobby hotel, ornamen tradisional dan furniture berbahan kayu jati menambah kesan klasik khas art deco. Pilar-pilar penopang yang berada di bagian tengah juga berasal dari kayu jati yang diberi sebuah aksen stain glass.



Langit-langit dibuat lebih tinggi yang dihiasi lampu gantung, di sekeliling plafon dihiasi ukiran klasik yang menambah elemen artistik di dalam ruangan. Pada dinding-dindingnya banyak dihiasi dengan koleksi jam-jam dinding antik.

Bangunan di pusat bisnis Tunjungan ini sangat menonjol pada zamannya. Di sinilah para perwira tinggi, sosialita dan pengusaha era penjajahan Belanda sering mengadakan pertemuan. Hotel ini juga menjadi salah satu hotel berbintang lima yang digunakan sebagai tempat transit pengunjung.

baca juga: Peringatan perobekan bendera Belanda

Pada masa pendudukan Jepang, tidak ada perubahan fisik bangunan yang signifikan. Hanya namanya yang berganti menjadi Yamato menggantikan Oranje.  



Sejak peristiwa heroik perobekan bendera Belanda menjadi bendera Merah Putih pada 1945, hotel diubah kembali menjadi Hotel Merdeka. Tak bertahan lama, hotel tersebut kembali berganti nama menjadi L.M.S. Hotel. Sarkies Bersaudara mengambil alih kembali pengelolaan hotel dan mengganti namanya untuk mengenang pendirinya, Lucas Martin Sarkies.

Pada 1969, nama hotel kembali diubah karena pergantian manajeman menjadi Hotel Majapahit. Saat itu, Mantrust Holding Co. menjadi pemilik baru dan mengambil nama hotel karena terinspirasi salah satu kerajaan tua di pulau Jawa.

Kemudian, kelompok usaha perhotelan Mandarin Oriental mengakuisisi kepemilikan di 1993, sehingga namanya berganti menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit. Pada tahun yang sama, pemerintah menetapkan hotel itu sebagai cagar budaya. Selanjutnya, pada 2006, hotel ini diakuisisi oleh PT Sekman Wisata dan berganti nama kembali menjadi Hotel Majapahit.
 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id