Kisah dari Jembatan Merah
Fisik jembatan relatif tidak mencolok. Merah yang menjadi namanya, adalah warna pagar besi tipis dan pendek di sisi kiri dan kanannya. Antara Foto/Erick ireng
Surabaya: Cukup mendengar penggalan syair pertamanya, pasti judul lagu keroncong karya Gesang dan dipopulerkan Sundari Soektjo ini langsung ketahui.

Jembatan merah sungguh gagah
berpagar gedung indah
Sepanjang hari yang melintasi
silih berganti


Seusai judulnya, lagu tersebut terinspirasi oleh Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang sepanjang Oktober hingga November 1945 menjadi salah satu medan perang paling keras antara pasukan NICA melawan Arek-arek Suroboyo mempertahankan kemerdekaan RI yang baru berusia empat bulan.

Fisik jembatan relatif tidak mencolok. Merah yang menjadi namanya, adalah warna pagar besi tipis dan pendek di sisi kiri dan kanannya. Anda yang melintas melaluinya dari kawasan Pecinan Jl Kembang Jepun ke Jl Rajawali atau sebaliknya, kemungkinan besar tidak terlalu memperhatikannya.

Namun perang yang terjadi di sana pada 10 Nopember 1945 kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Kasus tewasnya Brigadir A.W.S Mallaby -petinggi militer Inggris yang memimpin pasukan NICA- dalam baku tembak di Jembatan Merah pada 30 Oktober 1945 menjadi puncak ketegangan di Surabaya yang terjadi sejak peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje (sekarang Hotel Majapahit) sebulan sebelumnya.

Sedemikian keras pertempuran berlangsung hingga NICA meminta bantuan Presiden Soekarno agar mau 'merayu' Arek-arek Suroboyo untuk gencatan senjata. Hanya karena ada permintaan langsung dari Presiden RI itulah maka Bung Tomo memerintahkan pasukannya meredakan perlawanan terhadap NICA.


Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membersihkan sampah di pinggiran Sungai Kalimas di Jembatan Merah, Surabaya, Jumat (27/4/2018). Di latar belakang tampak deretan gedung tua yang merupakan cagar budaya di kawasan bersejarah tersebut. Antara Foto/Didik Suhartono

Kawasan perniagaan

Jauh sebelum peristiwa yang diperingati sebagai Hari Pahlawan itu, Jembatan Merah dikenal sebagai kawasan Pecinan. Artinya di situlah kegiatan perniagaan Surabaya berpusat.

Kawasan yang dibelah Kali Mas dan bermuara ke Tanjung Perak itu mulai berkembang setelah adanya Perjanjian Pakubuwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Di dalam perjanjian itu sebagian daerah pantai utara Jawa -termasuk Surabaya- diserahkan Mataram kepada VOC.

Saat itu VOC membutuhkan pelabuhan pmenampung hasil bumi dari berbagai wilayah di Indonesia untuk dikirim ke Belanda. Kawasan jembatan tersebut berkembang pesat, di sebelah barat adalah Jl Willenstraat (kini Jalan Jembatan Merah) dan Jl Heerenstraat (Jl Rajawali) yang dipenuhi oleh pedagang besar Eropa, maskapai dan bank.

Kembang Jepun yang berada di timur jembatan diperuntukkan bagi warga keturunan Tionghoa, Arab dan Melayu. Seiring perkembangan bisnis, kawasan ini yang menjanjikan banyak keuntungan bagi para pengusaha dan pedagang.

Hingga kini, posisinya sebagai pusat perniagaan terus berlangsung. Terminal angkutan umum yang berada tepat di mulut Jembatan Merah telah berubah menjadi pusat grosir Plaza Jembatan Merah.

Bangunan tua di sekitarnya tetap dipertahankan arsitekturnya. Baik yang berciri Tionghoa di Kembang Jepun dan Eropa di seberangnya. Satu di antaranya adalah gedung yang menjadi Mapolres Surabaya yang beberapa waktu lalu diguncang teror bom.

Biar jembatan merah
seandainya patah
akupun bersumpah

Akan kunanti dia di sini
bertemu lagi




(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id