Hambatan dalam pengajuan KPR salah satunya uang muka. Foto: Shutterstock
Hambatan dalam pengajuan KPR salah satunya uang muka. Foto: Shutterstock

Hambatan Membeli Rumah dengan KPR

Properti perumahan bisnis properti kpr
Rizkie Fauzian • 01 Juli 2020 12:56
Jakarta: Memiliki rumah impian adalah keinginan setiap orang. Secara umum, di kawasan Asia Tenggara mayoritas calon pembeli memiliki kebiasaan menabung sebelum membeli rumah.
 
Survei mencatat sebanyak 69 persen responden Indonesia memiliki kebiasaan tersebut yang merupakan tertinggi kedua setelah Singapura 70 persen, namun lebih tinggi daripada Malaysia 56 persen dan Thailand 44 persen.
 
Sementara sebagian kecil calon pembeli rumah di kawasan Asia Tenggara memiliki kebiasaan untuk memulai menabung setelah mendapatkan estimasi harga rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


PropertyGuru Consumer Sentiment Study adalah survei berkala yang diselenggarakan dua kali dalam setahun oleh PropertyGuru bekerjasama dengan lembaga riset Intuit Research, Singapura.
 
Country Manager Rumah.com Marine Novita mengatakan bahwa hal tersebut secara umum menunjukkan bahwa responden di Indonesia dan Singapura memiliki kecenderungan untuk menabung terlebih dahulu sebelum membeli rumah.
 
"Responden Indonesia justru menunjukkan intensi paling tinggi dalam rencana pembelian properti di dalam negeri sejumlah 89 persen," jelasnya dalam riset dikutip Rabu, 1 Juli 2020.
 
Sedangkan 6 persen responden lainnya mempunyai intensi untuk membeli properti di luar negeri, 3 persen responden tidak memiliki keinginan untuk membeli properti dan 6 persen responden lainnya tidak tahu.
 
Bagi responden di Indonesia, hambatan utama yang dihadapi ketika akan mengambil KPR adalah tidak mampu membayar uang muka, pekerjaan atau pendapatan yang tidak stabil dan rekam jejak kredit yang jelek.
 
"Meski begitu calon pembeli rumah yang akan memanfaatkan KPR jangan lupa untuk memikirkan kelayakan dan kolektibilitas dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang saat ini sepenuhnya dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta jumlah angsuran bulanan," ungkapnya.
 
Marine menjelaskan, kelayakan dan kolektibilitas dalam SLIK ini merupakan klasifikasi status keadaan pembayaran angsuran bunga atau angsuran pokok dan bunga kredit oleh debitur serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang ditanamkan dalam surat-surat berharga atau penanaman lainnya.
 
Menurut Marine, di tengah pandemi covid-19 yang masih berlangsung sampai sekarang protokol kesehatan yang selama ini sudah berjalan bisa terus diterapkan termasuk di industri properti.
 
Bagi konsumen yang pertama kali akan membeli rumah, saat ini tidak harus langsung mendatangi showroom atau unit contoh yang ditawarkan oleh para pengembang.
 
"Saat ini yang paling penting dilakukan adalah mempelajari dulu proses pembelian rumah, membandingkan suku bunga KPR dari berbagai bank penyedia, dan mempersiapkan keuangan pribadi agar sudah siap secara finansial ketika mengambil KPR," ujar Marine.
 

(KIE)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif