Hari Pahlawan 2018

Tugu Pahlawan, Lingga Kebanggan Arek Suroboyo

Rizkie Fauzian 11 November 2018 07:24 WIB
hari pahlawan
Tugu Pahlawan, Lingga Kebanggan <i>Arek Suroboyo</i>
Monumen yang juga landmark Surabaya ini tingginya 41,15 meter dan berbentuk lingga. Warga juga menyebut bentuk itu sebagai paku terbalik. Antara Foto/Zabur Karuru
Surabaya:Lokasinya tepat seberang Kantor Gubernur Jawa Timur. Monumen yang diresmikan pada 10 November 1951 dibangun khusus untuk mengenang aksi heroik Arek-arek Suroboyo dalam perang mempertahankan kemerdekaan RI.

Pada sepanjang akhir Oktober hingga pertengahan November 1945, terjadi ketegangan antara Arek-arek Suroboyo dengan pasukan NICA (Belanda-Inggris) yang diterjunkan ke Surabaya oleh sekutus pasca menyerahnya Jepang dan Jerman dalam Perang Dunia II.


Sejak perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje pada September 1945, pasukan NICA berkeliling kota meminta Arek-arek Suroboyo meletakkan senjata. Permintaan yang dibalas dengan tembakan ke arah pasukan Inggris-Belanda tersebut.

Lalu terjadi pertempuran di Jembatan Merah yang menewaskan Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris pada 30 Oktober 1945. Seketika saja Surabaya dibombardir oleh NICA, warga terpaksa mengungsi ke luar kota.

Puncaknya adalah perang pada 10 Nopember 1945 kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Sedemikian keras pertempuran berlangsung hingga NICA meminta bantuan Presiden Soekarno agar mau 'merayu' Arek-arek Suroboyo untuk gencatan senjata. Hanya karena ada permintaan langsung dari Presiden RI itulah maka Bung Tomo memerintahkan pasukannya meredakan perlawanan terhadap NICA.


Pekerja memperbaiki panel dinding musem Tugu Pahlawan. Monumen ini merupakan tujuan wisata sejarah utama di Surabaya. Antara Foto/Didik Suhartono

Pendiri

Terdapat dua pendapat mengenai siapa yang menjadi pemrakarsa, sekaligus arsitek monumen bersejarah ini.  Menurut Gatot Barnowo, monumen ini diprakarsai oleh Doel Arnowo, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Daerah Kota Besar Surabaya.

Kemudian ia meminta Ir. Tan untuk merancang gambar monumen yang dimaksud, untuk selanjutnya diajukan kepada Presiden Soekarno.

Sedangkan menurut Ir. Soendjasmono, pemrakarsa monumen ini adalah Ir. Soekarno sendiri. Ide ini mendapat perhatian khusus dari Walikota Surabaya, Doel Arnowo.

Untuk perencanaan dan gambarnya diserahkan kepada Ir. R. Soeratmoko, yang telah mengalahkan beberapa arsitektur lainnya dalam sayembara untuk pemilihan arsitek untuk membangun monumen ini.

Rancangan dan pembangunan

Rencananya pembangunan Tugu Pahlawan memiliki tinggi 45 meter, namun karena berbagai kendala akhirnya tinggi yang disepakati adalah 41,15 meter. Diameternya 3,1 meter, namun semakin tinggi diameternya semakin kecil.

Tugu ini berbentuk lingga atau paku terbalik. Bagian tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas. Tinggi, ruas, dan canalures mengandung makna tanggal 10, bulan 11, tahun 1945.

Di bawah monumen dihiasi dengan ukiran Trisula bergambar Cakra, Stamba dan Padma sebagai simbol api perjuangan.

Biaya pembangunan Tugu Pahlawan berasal dari sumbangan para dermawan termasuk rakyat yang ikut menyumbangkan dana. Pada awalnya pekerjaan pembangunan Tugu Pahlawan ditangani Balai Kota Surabaya, kemudian dilanjutkan oleh Indonesian Engineering Corporation, yang kemudian diteruskan oleh Pemborong Saroja.

Konstruksi dimulai pada 20 Februari 1952 dan selesai pada 3 Juni 1952. Untuk membuat pondasinya, tanah  harus digali hingga 620 meter kubik. Selanjutnya dilakukan pengecoran beton yang dilakukan oleh Indonesian Engineering Corporation.


Seorang remaja berfoto di areal museum. Di latar belakang tampak Tugu Pahlawan dan patung Soekarno-Hatta. Antara Foto/Didik Suhartono

Untuk pembuatan beton ini menghabiskan besi sebanyak 19 ton. Pengecoran yang harus diselesaikan secara sekaligus membuat 120 orang harus bekerja bergiliran selama 40 jam non-stop.

Berdiri di atas lahan seluas 1,3 hektare, Tugu Pahlawan dilengkapi dengan lapangan luas, taman dan museum yang menyimpan berbagai benda dan non-benda peninggalan sejarah peristiwa pertempuran 10 November.

Pada salah satu sisi, terdapat patung mantan presiden Ir. Soekarno dan wakilnya Drs. Mohammad Hatta ketika sedang membaca proklamasi kemerdekaan di antara pilar-pilar tinggi yang menyerupai reruntuhan suatu bangunan.

Pada pilar-pilar juga terdapat tulisan-tulisan pembangkit semangat kemerdekaan yang menyerupai coretan-coretan. Bentuk unik dari pilar ini menjadi tempat favorit untuk berfoto.



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id