Operator co-living Cove Indonesia mencatat Bali menjadi wilayah dengan okupansi harian tertinggi. Foto: Medcom.id/Syarifah Komalasari
Operator co-living Cove Indonesia mencatat Bali menjadi wilayah dengan okupansi harian tertinggi. Foto: Medcom.id/Syarifah Komalasari

Hunian Komunal Bali Paling Tinggi, Okupansi Harian Tembus 90%

Rizkie Fauzian • 19 Mei 2026 16:27
Ringkasnya gini..
  • Cove Indonesia mencatat tingkat okupansi harian hunian komunal di Bali menembus 90 persen selama enam bulan terakhir berkat dominasi wisatawan dan pelaku perjalanan.
  • Pasar co-living Jakarta menunjukkan stabilitas tinggi untuk kategori hunian bulanan dengan tingkat okupansi mencapai 85 persen hingga 88 persen.
  • Cove menyebut properti dengan harga sewa premium memiliki tingkat okupansi lebih stabil dibanding segmen menengah karena mobilitas penyewanya lebih rendah.
Jakarta: Pasar hunian komunal di Indonesia menunjukkan karakteristik yang berbeda di tiap wilayah. Operator co-living Cove Indonesia mencatat Bali menjadi wilayah dengan okupansi harian tertinggi, sementara Jakarta lebih stabil pada kategori hunian jangka panjang.
 
Country Director of Growth & VP of Online Marketing Cove, Dian Paskalis, menyatakan sejak 2025 tingkat okupansi untuk kategori bulanan masih menjadi yang tertinggi secara keseluruhan dibandingkan kategori harian.
 
"Tingkat okupansi tetap paling tinggi yang tinggal jangka panjang. Secara tingkat okupansi bulanan tetap tertinggi," ujar Dian kepada Medcom.id pada Selasa, 19 Mei 2026.

Bali unggul di okupansi harian

Menurut Dian, karakteristik pasar di Bali berbeda dibanding kota lain karena didominasi wisatawan dan pelaku perjalanan jangka pendek. Kondisi tersebut membuat tingkat okupansi harian di Bali mampu bertahan di atas 90 persen selama enam bulan terakhir.

Sementara itu, wilayah Jakarta mencatat tingkat okupansi hunian jangka panjang berada di kisaran 85 persen hingga 88 persen dan cenderung stabil.
 
Untuk wilayah Bandung, tingkat okupansi berada di kisaran 77 persen hingga 82 persen. Angka tersebut dipengaruhi karakter pasar yang didominasi mahasiswa sehingga mobilitas penghuni lebih tinggi dan cenderung sering berpindah tempat tinggal.

Properti premium lebih konsisten

Selain faktor wilayah, harga sewa juga dinilai memengaruhi stabilitas okupansi properti. Dian mengungkapkan properti dengan harga sewa lebih tinggi justru memiliki tingkat okupansi yang lebih stabil.
 
Di Jakarta, properti dengan harga sewa Rp7 juta ke atas mencatat tingkat okupansi sekitar 85 persen hingga 88 persen. Sedangkan properti dengan harga sewa di kisaran Rp3 jutaan memiliki okupansi sekitar 80 persen.
 
Namun, properti kelas menengah yang berada di lokasi strategis seperti dekat pusat kuliner dapat mengalami peningkatan okupansi hingga mencapai 85 persen bahkan 90 persen.
 
Dian menilai penyewa di segmen menengah ke bawah umumnya lebih aspirasional sehingga tingkat perpindahan penghuni lebih tinggi dibanding segmen premium.
 
Menurutnya, mobilitas penghuni di kelas harga menengah membuat stabilitas okupansi menjadi lebih fluktuatif dibandingkan properti premium yang cenderung dihuni dalam jangka panjang.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan