Direktur Program ARCH:ID 2026, Firman Setia Erwanto, menyatakan bahwa pameran ini tidak hanya dirancang untuk berdampak secara nasional, tetapi juga mulai diperhitungkan di tingkat regional melalui keanggotaan International Union of Architects (UIA), yang merupakan wadah bagi asosiasi arsitektur dunia.
“Meskipun ARCH:ID baru berjalan enam tahun, dari segi kualitas penyelenggaraan dan kualitas pameran, kita bisa bangga karena menjadi salah satu yang terbaik di ASEAN,” ujar Firman di ajang ARCH:ID, Kamis, 23 April 2026.
Firman menambahkan bahwa dampak regional ini diperkuat dengan keterlibatan dalam komunitas arsitek di ASEAN dan Asia melalui jaringan Arcasia (Architects Regional Council Asia).
Menurutnya, Indonesia tidak hanya bersaing di bidang arsitektur, tetapi juga aktif dalam perkembangan teknologi bangunan bersama negara-negara lain. Hal ini bertujuan agar kawasan Asia Tenggara dapat bergerak bersama dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.
Baca Juga :
ARCH:ID 2026 Targetkan 31 Ribu Pengunjung
Selain aspek profesi, ARCH:ID 2026 juga menjadi platform bagi industri bahan bangunan lokal untuk menembus pasar internasional melalui keterlibatan lebih dari 200 mitra industri. Langkah ini juga didukung oleh keberadaan Architecture Expo Alliance yang memperluas jangkauan pasar hingga tingkat regional.
Ketua Umum IAI, Georgius Budi Wilianto, menegaskan bahwa keterlibatan pemangku kepentingan secara luas dalam satu ekosistem menjadi kunci pengembangan arsitektur Indonesia.
“Inilah yang kita dambakan, keterlibatan seluruh stakeholder dalam satu ekosistem. Inovasi harus terus berkembang setiap tahun,” ungkap Georgius.
Gelaran ini diharapkan mampu menarik minat investor global untuk melihat potensi pasar properti dan konstruksi melalui Indonesia sebagai pintu masuk di kawasan Asia Tenggara. (Syarifah Komalasari)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News