MINI Living salah satu co-living di Shanghai. Foto: Dezeen
MINI Living salah satu co-living di Shanghai. Foto: Dezeen

Investasi Hunian Berkonsep Co-Living Dinilai Menjanjikan

Ilham wibowo • 20 November 2019 19:28
Jakarta: Tren industri co-living dinilai memiliki prospek bisnis yang cukup menjanjikan. Hunian dengan konsep bersama ini tengah diburu khususnya residensial dengan harga di bawah Rp800 juta serta memiliki pendapatan berulang setiap bulannya.
 
Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengatakan tren tersebut cukup baik karena backlog atau defisit ketersediaan akan tempat tinggal mencapai 300 ribu-400 ribu unit per tahun. Sehingga, kebutuhan masyarakat memiliki hunian seperti hotel maupun properti berkonsep komunal masih sangat besar.
 
"Perusahaan properti yang memiliki prospek bagus antara lain properti di sektor industri, berkaitan dengan emiten properti yang mendapatkan pendapatan berulang seperti hotel, mal, dan konsep co-living karena lebih stabil dibanding yang hanya khusus jual putus," ujarnya melalui keterangan tertulis, Rabu, 20 November 2019. 

Salah satu pengembang properti yakni PT Hoppor International atau lebih dikenal Kamar Keluarga mengambangkan konsep hunian co-living. Ada lima pilar bisnis yang dikembangkan, yakni build operate transfer (BOT) yang membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil. 
 
Kedua yaitu KK Aset yang dapat membantu para mitra untuk mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia. Lalu, KK Operator dengan mengelola secara penuh seluruh lahan yang dijadikan kos maupun bisnis lainnya. 
 
Pilar keempat yaitu KK Development. Perusahaan bertindak sebagai ahli membangun rumah minimalis, efektif, dan efisien sehingga harga terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini yang mampu mendorong generasi milenial memiliki properti milik sendiri. Terakhir, KK Vertikal dengan emanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan. 
 
"Konsep yang kami tawarkan ini tentu saja membuat mitra-mitra kami dapat memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan cepat karena semua pihak mendapatkan profitnya," ujar CEO Kamar Keluarga Charles Kwok.
 
Konsep co-living yang telah dijalankan oleh Kamar Keluarga ini memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap dan harga yang terjangkau. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, Kamar Keluarga telah memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi strategis dan dekat dengan sarana TOD.
 
"Potensi industri ini sangat besar dan hal ini membuat kami berkembang dengan pesat serta membuat seluruh mitra kami menikmati manfaat dari passive income yang ada," tutup Charles.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KIE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan