Jakarta banjir pasokan ruang kantor
Deretan gedung perkantoran di salah satu sudut Jakarta. Antara Foto/Aprilio Akbar
Jakarta: Sektor perkantoran di Jakarta mengalami kelebihan pasokan dari segi permintaan. Okupansi perkantoran tahun ini jadi yang paling rendah sejak 2012.

"Hingga semester II ini masih kelebihan pasokan, meski banyak kegiatan tenant pindah kantor, namun okupansi tidak berpengaruh terhadap tingkat hunian," ungkap Senior Asscociate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto di World Trade Center, Jakarta, Rabu (4/7/2018).


Hingga akhir tahun akan ada tambahan pasokan perkantoran baru sebanyak 10 juta per meter persegi. Sementara hingga 2021 diperkirakan pasokan bertambah 11,5 juta per meter persegi yang 7 juta meter persegi di antaranya beradar di kawasan Central Business District (CBD).

"Dari 2021 sampai 2023 masih banyak yang akan membangun perkantoran terutama pengembang besar dan asing," sambung Ferry.

Lebih lanjut diungkapkan akan ada tingkat kekosongan sebanyak 2 juta meter persegi. Kondisi ini cukup berbeda dari beberapa tahun sebelumnya, bahwa di saat permintaan menurun tapi pasokan terus bertambah.  



"Dengan begitu, diprediksi tingkat hunian atau okupansi perkantoran di CBD turun 79 persen hingga akhir tahun. Padahal sebelumnya, tingkat okupansi mampu mencapai 85 persen. Sementara di luar CBD okupansi tercatat di kisaran 81 persen dengan penurunan 2 persen hingga 2,5 persen," jelasnya.

Tarif Sewa

Pembangunan perkantoran diprediksi masih tumbuh hingga 2023. Meski tingkat okupansi rendah, namun pertumbuhan perkantoran tersebut membuat harga sewa yang lebih rendah. Selain itu, tenant juga diprediksi akan menyesuaikan kontrak sewa menjadi lebih efisien.

"Dengan  tenant market masih mendominasi pemilik properti akan beri harga sewa yang lebih rendah dan kontrak sewa yang lebih fleksibel. Ada opsi yang bisa beri keuntungan lebih ke penyewa," jelasnya

 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id