Stadion Utama Gelora Bung Karno

Gaya Retro Stadion Aquatic Senayan

Rizkie Fauzian 15 Januari 2018 17:39 WIB
gbk
Gaya Retro Stadion Aquatic Senayan
Stadion Aqautic (kanan) dan Istora (kiri di kejauhan) mengapit koridor timur SUGBK. (foto: M. Tuflichun Alfath)
Jakarta:Wajah baru Stadion Aquatic, Senayan, Jakarta, hasil renovasi juga yang paling dinanti. Sama seperti Stadion Utama Gelora Bung Karno, bangunan ini juga cagar budaya yang wajib dipertahankan keasliannya namun fasilitasnya harus yang terbaru.

Bagaimana tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mensiasatinya?


Menurutnya hasil pemeriksaan menunjukkan banyak bagian bangunan yang dibangun pada 1962 itu tidak lagi memadai. Seperti kolam renang yang kurang dalam, kurang lebar dan kurang panjang. Padahal sesuai standart internasional panjangnya harus 50 meter dan berukuran 25 x 21 meter untuk loncat indah.

Renovasi stadion renang dikerjakan PT Waskita Karya sejak Agustus 2016 dan selesai November 2017. Stadion renang itu kolam utama untuk pertandingan (51,20 m x 25 m x 3 m), kolam polo air (50 m x 25 m x 3 m), kolam loncat indah (21 m x 25 m x 5 m) dan kolam pemanasan (20 m x 50 m x 1,4-2 m).

"Fasadnya tidak banyak diubah, tapi kita ingin ada tanda atau signature (yang membedakan) bahwa ini dibangun (atau direnovasi) di 2017," kata arsitek Andra Martin kepada medcom.id.

Atap beriak

Pilihan yang ada untuk membuat signature itu adalah bagian atap. Stadion Aquatic yang desain sebelumnya adalah tanpa atap tersebut dibuat semi-indoor. Penambahan atap bukan semata-mata demi signature tim arsitek, melain untuk persyaratan teknis bahwa suhu air kolam harus stabil 26 derajat celsius.

Syarat yang mustahil dipenuhi bila bertahan tanpa atap. Namun menutup penuh bagian atas banguan dengan atap permanen lalu memakai AC untuk menjaga suhu, malah menambah beban konsumsi listrik dan konstruksi bangunan.

"Atapnya dibuat semi permanen, membentang 88-90 meter agar air kolam tidak terpapar panas dan tapi angin masih bisa tembus ke dalam," jelas Andra.

Desain awal atap akan dibuat serupa Istana Olahraga (Istora) yang posisinya sejajar dengan Stadion Aquatic mengapit gerbang masuk SUGBK. Tapi setelah diperhitungkan baik-baik, akhirnya desain atap dibuat menyerupai riak air yang ujungnya meruncing ke atas.

"Maksudnya agar nantinya prestasi setiap atletnya terus naik," ujar Andra yang dipercaya sebagai desainer proyek renovasi Stadion Aquatic, Senayan.   

Ramah difabel

Stadion akuatik ini juga punya fitur ramah penyandang difabel, sehingga sudah siap menjadi lokasi penyelenggaraan Asian Paragames 2018. Ajang kompetisi multi cabang olahraga khusus difabel tersebut akan dilaksanakan di Jakarta pada 8 hingga 16 Oktober 2018.

Akses masuk bagi penonton dan atlet pengguna kursi roda berupa ramp (jalur datar landai) di sisi timur. Melalui ramp itu penonton dan atlet difabel dapat ke semua tribun dan arena dengan mudah.

Bukan hanya itu, di dalam stadion berkapasitas delapan ribu penonton ini punya area kosong yang bisa menampung 250 kursi roda. "Setiap tribunnya mampu menampung 40 penonton pengguna kursi roda," tambah Andra.

Renovasi interiro juga dilakukan terhadao ruangan VVIP di sisi barat yang terlalu besar. Ruangan itu diperkecil sehingga tidak menghalangi pandangan dari tribun penonton. "Bagian tribune ini yang memang dikonserbasi, tidak boleh diubah," imbuhnya.

Khusus kolam polo air, dibuat 'terpisah' dengan memasang partisi kawat. Kawat yang juga penahan bola tersebut membuat sisi klasik bangunan lama justru jadi semakin menonjol.

"Sistem penjernihan air menggunakan yang terbaru, mesin-mesinnya lebih kecil. Board penulisan juga lebih kecil dan tribun polo air teleskopik yang bisa diatur maju-mundur," tutup Andra.
 




 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id