Yori Antar, Pendekar Arsitektur Nusantara
Yori Antar terinspirasi ayahandanya yang menyebut arsitektur nusantara adalah arstitektur yang berguna. MI/Sumaryanto
Jakarta: Julukan pendekar arsitektur nusantara yang diberikan kepadanya bukan omong kosong. Yori Antar ini sangat peduli terhadap pelestarian arsitektur tradisional dari ancaman kepunahan.

Gerakan pelestarian dan menyelamatkan rumah-rumah tradisional Indonesia. Sejak 2008 arsitek bernama lengkap Gregorius Antar Awal aktif melakukan restorasi terhadap rumah-rumah tradisional di Waerebo, Flores, Nias, Sumba Barat Daya dan banyak lagi.


"Di sana saat membangun rumah kita akan melihat ada tiga generasi yang terlibat, orang tua mendidik anak muda untuk mengayam, membangun, dan mengawasi pembangunan, generasi ketiga mereka bermain-main dan ikut membantu," papar Yori dalam Art Insight Metro TV.

Baginya anak-anak yang bermain-main di tengah proses pengerjaan rumah justru faktor penting memperkenalkan arsitektur tradisional kepada generasi penerus. "Arsitektur tradisional ini kuncinya ada di generasi masa depan. Bila generasi masa depan lupa budayanya, itu kematian buat arsitektur tersebut," jelasnya.

Arsitektur yang berguna

Kecintaannya terhadap dunia arsitektur tidak lepas dari dukungan sang ayah, Han Awal. Dari sang ayah pula 'doktrin' bahwa bangunan harus berguna bagi masyarakat dikenal lalu menjadi pedomannya dalam berkarya.

Inilah juga prinsip Yori mendesain ruang publik di beberapa tempat di indonesia yang prinsipnya adalah fungsi sebagai tempat berkumpul, interaksi lintas golongan dengan fasilitas yang manusiawi.

Rancangan ruang publik atau terbuka hijau pertama karyanya adalah ada dalam proyek rehabilitasi Kalijodo. Di sana dia merancang bangunana panggung sebagai masjid dengan budaya Betawi.

Yori pula yang merancang koridor utama di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Koridor itu dirancangnya sekaligus sebagai ruang publik yang bisa warga manfaatkan untuk berolahraga, tidak hanya bertemu teman.

Ruang publik lainnya yang tengah dikembangkan Yori adalah di jembatan Holtekam di Jayapura. Ruang publik berada di kolong jembatan. Pembangunannya diharapkan bisa mendorong pariwisata bagi sekitarnya.

"Kalau hanya indah tapi tidak berguna, ya percuma juga," ungkap pria kelahiran 14 Mei 1962 ini.




 



(LHE)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id