FITNESS & HEALTH

POGI Dorong AI untuk Kesehatan Perempuan, Tapi Akses Merata Tetap Jadi Prioritas

A. Firdaus
Rabu 22 Juli 2026 / 19:05
Ringkasnya gini..
  • Digitalisasi dan pemanfaatan big data perlu diarahkan untuk mendukung kesehatan perempuan.
  • POGI menilai kecerdasan buatan berpotensi membantu tenaga kesehatan dalam meningkatkan akurasi layanan.
  • POGI mendorong penguatan sistem pemantauan kesehatan perempuan secara digital, mulai dari masa remaja hingga usia reproduktif.
Jakarta: Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) mulai membuka peluang baru dalam pelayanan kesehatan perempuan. Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pemerataan akses layanan kesehatan tetap menjadi tantangan yang harus diselesaikan agar manfaat inovasi dapat dirasakan hingga ke daerah terpencil.

Isu tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) POGI XXVIII 2026 yang digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Banten, pada 16–22 Juli 2026. Mengusung tema "Integrating Innovation and Equity: Advancing Women's Health in the Era of Artificial Intelligence", forum ini membahas bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan reproduksi tanpa mengabaikan prinsip pemerataan.

Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG., Subsp. F.E.R., MPH., FRANZCOG (Hons)., FICRM., mengatakan digitalisasi dan pemanfaatan big data perlu diarahkan untuk mendukung kesehatan perempuan sejak sebelum kehamilan hingga memasuki masa menopause.
 

Menurut Prof. Budi, berbagai program seperti SPRIN (Selamatkan Perempuan Indonesia), digitalisasi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta program Gelang Kehamilan Cemerelang (GEMILANG) menjadi bagian dari upaya memperkuat pemantauan kesehatan perempuan secara menyeluruh.

"Intervensi seperti suplementasi multiple micronutrient dan penanganan anemia menjadi langkah penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian ibu, mengurangi stunting, sekaligus meningkatkan kualitas hidup perempuan Indonesia," ujar Prof. Budi.
 

AI dinilai dapat memperkuat layanan kesehatan


POGI menilai kecerdasan buatan berpotensi membantu tenaga kesehatan dalam meningkatkan akurasi layanan, pemantauan pasien, hingga pengelolaan data kesehatan. Namun, pemanfaatannya tetap harus mengedepankan aspek etika, profesionalisme, keamanan data, dan regulasi yang ketat.


POGI XXVIII 2026 digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Banten. Dok. Ist

Selain membahas teknologi, PIT POGI XXVIII juga menyoroti berbagai persoalan kesehatan perempuan yang masih menjadi tantangan, seperti dampak penyakit penyerta (komorbid) pada kehamilan, pencegahan stunting, hingga percepatan eliminasi kanker serviks.
 

Apresiasi bagi dokter di daerah terpencil


Dalam forum tersebut, POGI juga memberikan penghargaan kepada dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang mengabdi di wilayah terpencil, termasuk Kepulauan Riau, Papua, Papua Barat Daya, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap tenaga kesehatan yang tetap memberikan pelayanan meski menghadapi keterbatasan sarana dan tantangan geografis.

Selain itu, POGI menganugerahkan SPRIN National Award 2026 kepada cabang yang dinilai berhasil menghadirkan inovasi dalam upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan stunting.
 

Jawa Timur jadi role model penurunan AKI


Penghargaan tertinggi tahun ini diraih POGI Jawa Timur melalui kolaborasi POGI Surabaya dan POGI Malang. Keduanya dinilai berhasil mengembangkan program bersama pemerintah daerah dan dinas kesehatan yang berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu, termasuk di Kabupaten Jember.

Ketua POGI Jawa Timur 2 (Malang), Dr. dr. Hj. Yessi Rahmawati, Sp.OG., Subsp. Obginsos., M.H., M.Kes., mengatakan keberhasilan menurunkan AKI tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja.

"Kolaborasi antara organisasi profesi, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader kesehatan, hingga masyarakat menjadi kunci untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi di Indonesia," ujarnya.

Ke depan, POGI mendorong penguatan sistem pemantauan kesehatan perempuan secara digital, mulai dari masa remaja hingga usia reproduktif. Organisasi ini juga menilai peran kader kesehatan perlu terus diperkuat agar deteksi dini faktor risiko dapat dilakukan lebih cepat sebelum terjadi komplikasi kehamilan.

Melalui PIT POGI XXVIII, organisasi profesi tersebut menegaskan bahwa kemajuan teknologi, termasuk AI, harus berjalan beriringan dengan pemerataan layanan kesehatan agar seluruh perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH