Deretan replika rumah Betawi beraneka tipe dan bentuk di UP PBB Jagakarsa, Medcom.id - Ririn
Deretan replika rumah Betawi beraneka tipe dan bentuk di UP PBB Jagakarsa, Medcom.id - Ririn

Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?

Properti rumah tradisional
Laela Badriyah • 14 Februari 2019 13:34
Jakarta: Anda yang menonton Si Doel Anak Sekolahan pastinya tak asing dengan sebuah rumah bernuansa kuning dan hijau. Nah, tahukah Anda tempat tinggal Si Doel itu bertipe apa?
 
Medcom.id berkesempatan mendatangi area perkampungan Betawi di Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk melihat replika rumah khas. Ada empat tipe rumah yang dipajang di kompleks replika tersebut.
 
Rumah Kebaya, Rumah Kandang, Rumah Joglo, dan Panggung. Staf informasi Unit Pengelolaan Perkampungan Budaya Betawi di Jagakarsa, Buhori, mengatakan perbedaan paling kentara dari empat tipe itu adalah atapnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?
(Replika Rumah Kebaya, rumah khas Betawi, di UP PBB Jagakarsa, Medcom.id - Ririn)
 
Pada Rumah Kebaya, bentuk atap menyerupai pelana yang dilihat. Bila dilihat dari samping, bentuk atapnya seperti lipatan kebaya, pakaian khas perempuan Betawi.
 
Ada satu furnitur yang ditempatkan pemilik rumah di bagian beranda. Yaitu sebuah bale yang diletakkan di beranda depan. Di bale, penghuninya bisa tidur-tiduran atau sekadar duduk santai menyaksikan suasana di depan rumah. Ya, bayangkan saja rumah Si Doel ya?
 
Tipe kedua yaitu Rumah Joglo. Denah rumahnya berbentuk bujursangkar. Bentuk bangunan dipengaruhi arsitektur rumah Jawa. Bentuk atap seperti limas.
 
Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?
(Replika Rumah Joglo (kiri) dan Rumah Kandang (kanan), rumah khas masyarakat Betawi, di UP , yang menjadi replika Perkampungan Budaya Betawi di Jagakarsa, Medcom.id - Ririn)
 
Lalu ada pula Rumah Kandang atau Rumah Gudang. Rumah ini berbentuk persegi panjang. Bentuk atapnya seperti pelana. Bedanya, pada Rumah Kebaya, pinggir atap yang menjadi area limpasan air berada di depan. Sedangkan di Rumah Kandang, area limpasan air berada di samping.
 
Tiga rumah itu digunakan masyarakat Betawi tengah. Yaitu, masyarakat yang berada di tengah kota Jakarta pada masanya.
 
Satu lagi tipe rumah khas Betawi, namun kerap digunakan masyarakat daerah pesisir. Yaitu, Rumah Panggung.
 
Sepintas bentuknya seperti Rumah Kandang. Bangunannya berbentuk segi empat dengan atap pelana. Bedanya, kolong pada bagian bawah rumah cukup tinggi.
 
"Kurang lebih satu setengah meter. Kolong dibuat agar air laut tak menjangkau lantai rumah," kata Buhori saat mendampingi Medcom.id berkeliling area.
 
Salah satu tokoh Betawi yang menempati Rumah Panggung adalah Si Pitung. Nama Sang Jawara tentu sangat lekat dengan sejarah dan budaya Betawi. Untuk melihat replika Rumah Panggung Si Pitung, Anda bisa mendatanginya di Marunda, Jakarta Utara.
 
Pembagian ruangan
Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?
(Buhori, staf UP PBB Jagakarsa, berada dalam ruang dalam rumah Betawi, Medcom.id - Ririn)
 
Area dalam rumah dari keempat bangunan itu hampir sama. Itu bergantung pada selera si pemilik rumah.
 
Area pertama yaitu beranda. Sebelum masuk rumah, sang pemilik biasa menyambut tamu di area beranda. Biasanya, pemilik rumah menempatkan bale di satu sisi, dan satu set meja kursi di sisi lain.
 
Satu benda yang menarik di bagian beranda adalah lampu gantung. Banyak jenis lampu yang bisa digunakan untuk menghias beranda. Lampu demang, salah satunya.
 
"Dulu, lampu ini menjadi penanda bahwa rumah yang ada lampu demang itu, adalah milik orang kepercayaan Belanda. Biasanya, lampu itu merupakan hadiah Belanda pada orang Betawi yang menjadi tangan kanannya," ungkap Buhori yang merupakan warga Betawi asli.
 
Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?
(Lampu Demang, diletakkan bergantung di beranda rumah khas Betawi, Medcom.id - Ririn)
 
Bentuk lampu terbilang unik. Dulunya, api dinyalakan pada salah satu bagian. Di bagian atas, terdapat sebuah tudung yang dapat membiaskan cahaya dari api. Lalu besi dibentuk layaknya gantungan di beberapa sisi. Gunanya, untaian besi itu menjadi tali untuk menggantung lampu pada plafon.
 
Pintu rumah berada di tengah-tengah area depan. Pintu rumah terdiri dari dua pintu yang dibuka ke kiri dan kanan.
 
Bentuk pintu pun khas. Separuh bagian atas berupa susunan miring dari beberapa bilah papan. Sedangkan bagian bawahnya polos.
 
Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?
(Detail pintu dan ventilasi pada bagian depan rumah khas Betawi, Medcom.id - Ririn)
 
Ventilasi diletakkan di atas pintu. Bilah-bilah papan dibuat saling silang. Sehingga udara bisa keluar masuk untuk menjaga kesegaran di dalam rumah. Sedangkan jendela berada di sisi kiri dan kanan pintu.
 
Masuk ke dalam rumah, sebuah ruangan menyambut. Ruangan itu menjadi area untuk kumpul keluarga, seperti kegiatan makan bersama.
 
Sebagian besar, kamar di dalam rumah ada dua. Satu kamar untuk anak-anak perempuan. Satu kamar lagi untuk tempat tidur orang tua.
 
"Lalu, anak laki-lakinya tidur di mana, Pak?"
 
"Zaman dulu, anak laki-laki tidurnya di musala atau langgar. Setelah mereka mengaji, mereka tidur beramai-ramai di langgar. Paginya, baru mereka pulang ke rumah untuk siap-siap bersekolah. Jadi, tidak ada ruangan khusus anak laki-laki dalam rumah. Kalaupun mereka mau istirahat, mereka biasanya tidur di bale," jelas Buhori.
 
Biasanya, kamar anak perempuan terletak di bagian depan. Sedangkan kamar orang tua berada di bagian belakang.
 
Dapur dan kamar mandi, dulunya, itu berada di belakang rumah. Sebuah sumur digali tak jauh dari kamar mandi. Tapi di era modern, pemilik rumah sudah menempatkan dapur dan kamar mandi di dalam rumah. Seperti rumah Si Doel, Anda tentu ingat adegan Mandra saat mau mandi. Kamar mandinya terlepas dari bangunan utama rumah.
 
Apa Nama Tipe Rumah Si Doel dalam Tradisi Betawi?
(Replika satu set meja dan kursi yang biasa digunakan masyarakat Betawi dan diletakkan di beranda, Medcom.id - Ririn)
 
Seratus persen bangunan, ungkap Buhori, berbahan kayu atau papan. Pada zaman dulu, masyarakat Betawi menggunakan kayu nangka. Dulu, pohon nangka bertebaran di Jakarta. Masyarakat menebang pohon lalu merendamnya di sungai. Tujuannya, daging pohon menjadi lebih padat.
 
Beberapa hari kemudian, pohon dibawa ke daratan. Masyarakat lalu membentuk pohon nangka menjadi beberapa bilah papan untuk pembangunan rumah.
 
"Dulu, orang Betawi menggunakan pasak untuk menggabungkan beberapa bilah papan. Jadi, orang Betawi zaman dulu tidak mengenal paku atau baut dan sejenisnya. Makanya ketika pindahan, rumah itu bisa diangkat secara beramai-ramai," ungkap Buhori.
 
Lain dulu lain sekarang. Lain zamannya. Di era modern, pohon nangka sudah sulit didapat. Warga Betawi mulai menggunakan semen dan pasir untuk membangun rumah. Papan atau kayu dari jenis lain, seperti ulin, bisa digunakan, hanya saja harganya lebih mahal.
 
Meski lebih modern, warga Betawi tak meninggalkan beberapa ornamen yang menjadi khas, utamanya atap. Itu merupakan salah satu cara warga Betawi menjaga kebudayaan yang diwariskan turun menurun.
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif