NasDem: Banyak Kandidat Terjebak OTT karena Mahar
Ilustrasi korupsi- Medcom.id
Jakarta: Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya menilai penangkapan Bupati Ngada Marianus Sae hanya puncak gunung es persoalan mahar partai politik. Hal ini menjadikan banyak kandidat kepala daerah melakukan praktik koruptif.

"Banyak kandidat terjebak OTT karena partai menggunakan itu (mahar) sebagai syarat," kata Willy di kantornya, Senin, 12 Februari 2018.


Marianus merupakan Bupati Ngada yang dicalonkan oleh PDI Perjuangan dan PKB maju sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT). Willy menegaskan Partai NasDem sejak awal berkomitmen tak ingin membebani kepala daerah dengan mahar politik.

Sebab, menurut dia, praktik tersebut merupakan bagian hulu dari perilaku koruptif pejabat. "Kalau memberantas korupsi, ya, dari hulu, dari mahar ini. Tidak boleh membebani pemimpin dengan persyaratan yang aneh-aneh, termasuk mahar," sebut Willy.

(Baca juga: Bupati Ngada Diduga Terima Rp4,1 Miliar)

Selain membebani calon pemimpin, praktik mahar ini juga berpengaruh besar pada kepercayaan masyarakat. Saat ini saja kepercayaan pada parpol terus tergerus.

Ditambah dengan budaya mahar politik, kepercayaan masyarakat dipastikan semakin merosot. "Kalau kultur parpol seperti ini, tentu masyarakat semakin tidak percaya," imbuh dia. 

Menurut Willy, yang harus menjadi fokus parpol adalah bagaimana mendesain pemimpin yang total melayani masyarakat. Ia menganalogikan mahar politik seperti burung yang diberi pemberat. Bagaimana burung tersebut bisa terbang. 

"Ini anomali ya, sulit melahirkan pemimpin yang total melayani masyarakat. Karena belum-belum dia akan berpikir mengembalikan uang. Yang rugi itu sebenarnya masyarakat," kata Willy.

(Baca juga: Penangkapan Marianus Menutup Potensi Korupsi di NTT)







(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id