Kotak Kosong Jadi Pembelajaran
Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal.
Jakarta:Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 berlangsung di 171 daerah yang terdiri atas 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Dari jumlah tersebut, terdapat 16 pilkada dengan pasangan calon tunggal. Pilkada Kota Makassar menjadi satu-satunya yang dimenangi kotak kosong.

Ketua KPU Arief Budiman menilai kemenganan kotak kosong menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak, termasuk masyarakat.


"Ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak bahwa yang tadinya dikatakan tidak mungkin menang, ternyata menang. Ini adalah pilihan masyarakat," ujarnya di Jakarta, Sabtu, 30 Juni 2018.

Baca: Skenario Jika Kotak Kosong Menang di Makassar

Menurutnya, pilkada dengan calon tunggal sebetulnya menjadi problem tersendiri karena tidak demokratis. "Awalnya tidak boleh ada calon tunggal, lalu Mahkamah Konstitusi membolehkannya jika tidak ada yang mendaftarkan," terang Arief.

Wakil Sekjen PAN Saleh Partaonan Daulay menambahkan fenomena kemenangan kotak kosong menunjukkan kesadaran politik masyarakat yang semakin baik. "Itu artinya masyarakat tidak bisa sekadar disuguhi satu calon. Mereka tidak mau dipaksa memilih calon yang dipilih parpol," ujarnya.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang menjadi salah satu parpol pendukung pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu) di pilkada Kota Makassar, mengaku sudah bekerja maksimal untuk memenangkan pasangan itu. Appi-Cicu diusung 10 parpol, yakni PPP, Golkar, NasDem, PKS, PDIP, Hanura, PBB, Gerindra, dan PKPI.

"Memang di pilkada yang lebih menentukan ialah ke-tokohan. Kampanye kotak kosong berlangsung masif memanfaatkan emosional pemilih. Apalagi, jarak waktu antara rekomendasi pembatalan pasangan calon dan pemungutan suara tidak terlalu lama," jelas Wakil Sekjen PPP Achmad Baidowi.



Dari data hasil hitung cepat KPU, dalam pilkada Kota Makassar, kota kosong unggul dengan 236.785 suara atau 52,5%, sedangkan pasangan Appi-Cicu meraup 214.219 suara atau 47,5%.

Di Kota tersebut, berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT), jumlah pemilih laki-laki sebanyak 382.546 jiwa dan pemilih perempuan 404.647 jiwa, sedangkan yang menggunakan hak pilih ialah laki-laki 213.458 dan perempuan 247.492 jiwa. Partisipasi pemilih dalam pilkada itu mencapai 58,54%.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Syaiful Mujani Reaserch and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menilai kemenangan kotak kosong di Kota Makassar bukan hanya karena masyarakat menolak calon tunggal. Ada juga penyebab lainnya.

Ia menduga hal itu terjadi karena kegelisahan masyarakat akibat pasangan petahana Muhammad Ramdhan Pomanto-Indira Mul-yasari didiskualifikasi.

Sementara itu, pengajar ilmu politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, berpendapat kemengan kotak kosong merupakan wujud kemerosotan demokrasi.



(YDH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id