Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Pemilu Proporsional Terbuka Bentuk Kemajuan Pesta Demokrasi

Pilkada pilkada serentak Pemilu Serentak 2020
Anggi Tondi Martaon • 20 November 2020 04:51
Jakarta: Pembuat kebijakan diminta mempertahankan sistem proporsional terbuka dalam pelaksanaan pemilihan umum (pemilu). Sebab, mekanisme tersebut mewakili kemajuan pesta demokrasi di Indonesia.
 
"Karena proporsional tertutup itu bagian dari indikator kemunduran elektoral kita," kata Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR), Alwan Ola Riantoby, kepada Medcom.id, Kamis, 19 November 2020.
 
Meski dinilai sebagai kemajuan, sistem tersebut masih memiliki kekurangan. Antara lain celah lebar praktik politik uang dan potensi munculnya polarisasi masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tetapi esensi dari elektoral itu adalah proporsional terbuka karena masyarakat pemilih bisa langsung mengetahui siapa calon yang akan dipilih," ungkap Alwan.
 
Sementara itu, sistem proporsional tertutup identik dengan orde lama dan orde baru. Proses penentuan kader yang lolos ke parleneb diberikan kepada partai, bukan pemilih secara langsung.
 
"Kemudian memunculkan oligarki sebenarnya. Di mana siapa yang mempunyai orang dalam, kedekatan maka dia otomatis dia akan dipilih," sebut dia.
 
Namun, proporsional tertutup ini dinilai memiliki sejumlah kelebihan. Antara lain pengawasan partai lebih kuat untuk menentukan apakah kader tersebut menjalankan tugas dengan baik sebagai anggota dewan.
 
"Kalau terbuka dia kan harus berkontribusi langsung ke konstituen di bawah kan," ujar dia.
 

(ADN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif