Kans Menang dan Mitos Nomor Urut Pilkada
Pengundian nomor urut cagub dan cawagub Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Novrian Arbi)
Jakarta: Bagi sebagian orang, nomor terkadang dianggap sebagai sesuatu yang dapat membawa keberuntungan. Namun, tidak demikian dalam kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada).

Meskipun beberapa pihak mempercayai ada unsur keberuntungan dan kesialan dalam sebuah nomor, nyatanya dalam pesta demokrasi hal itu tidak berlaku.


Pengamat Politik Burhanudin Muhtadi mengatakan nomor 1 memang erat kaitannya dengan predikat juara. Namun, dalam kontestasi pilkada, pasangan nomor urut 1 justru jarang menang.

Contoh kasus, pada Pilpres 2014 dimenangi pasangan calon nomor urut 2, yakni Jokowi-Jusuf Kalla. Atau pada Pilkada DKI 2017 yang dimenangi Anies Baswedan-Sandiaga Uno dengan nomor urut 3.

"Jadi, memang perolehan nomor tidak memiliki hubungan dengan kemenangan. Meskipun dalam beberapa kasus tidak terbukti, tapi memang cukup menyedot perhatian publik," kata Burhan, dalam Special Event Metro TV, Selasa, 13 Februari 2018.

Burhan menilai berapa pun nomor yang didapatkan setiap calon tidak ada kaitannya dengan faktor keberuntungan. Hanya, nomor yang paling diingat memudahkan tim di belakang calon untuk membentuk citra.

Misalnya, nomor urut 1 lebih sering dikaitkan dengan unsur ketauhidan, nomor urut 2 erat dengan simbol perdamaian danvictory (kemenangan), serta nomor urut 3 dikenal dengan salam metal.

"Secara psikologis memang ada, tapi tidak selalu membawa keberuntungan," katanya.

Direktur Eksekutif M Qodari dalam Metro Pagi Primetime, Rabu, 14 Februari 2018, juga menyebut penomoran calon tak selalu berujung pada keberuntungan. 

Bahkan, menurut dia, tidak pernah ada riset yang menunjukkan pasangan calon bernomor urut 1 hasilnya pasti mendapat posisi pertama. Di beberapa kasus, misalnya, pemilu justru dimenangi pasangan calon dengan nomor urut buncit.

"Tidak ada korelasinya. Mungkin bagi kandidat ada perasaan psikologi sendiri-sendiri dan yang menarik mereka sudah pasti punya justifikasi sendiri," kata Qodari.

Menurut Qodari, ketimbang nomor, popularitas lebih dibutuhkan untuk meraup banyak suara. Paling tidak, pasangan calon harus dikenal lebih dulu sebagai modal dasar dalam pilkada.

"Kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itu pepatah yang paling berlaku di pilkada langsung," jelasnya.





(MEL)