ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Wapres dan MUI Dukung Rencana Program Maghrib Mengaji di Sumbawa

Pilkada pilkada serentak Pemilu Serentak 2020
Medcom • 27 Oktober 2020 17:53
Jakarta: Calon Bupati Sumbawa, NTB, Syarafuddin Jarot dan Mokhlis mengusung program Maghrib Mengaji jika terpilih menjadi kepala daerah. Program itu dinilai bisa menjaga nilai-nilai keagamaan dan membangun generasi muda berakhlak mulia di Sumbawa.
 
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Wakil Presiden Maruf Amin, Masduki Baidlowi menilai hal itu sebuah gagasan yang bagus. Karena selama ini banyak tradisi baik yang hilang.
 
“Mengaji habis maghrib itu kan tradisi lama, zaman sebelum ada televisi, radio, gadget. Kalau dulu orang setelah maghrib mengaji, sekarang nonton tv, main HP dan game online, jadi kalau itu mau dihidupkan lagi, saya kira baik sekali, saya sangat mendukung,” tuturnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan, salat maghrib berjemaah, dilanjutkan mengaji sampai Isya berjemaah adalah salah satu hal yang membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang baik.
 
“Ajaran agama yang rahmatan lil alamin diajarkan di situ, saat anak-anak mengaji. Bahkan yang lebih senior biasanya setelah Isya masih mengaji kitab yang lebih dalam. Itulah tradisi kita dulu,” tuturnya.
 
Ia mengatakan, dalam kegiatan kampanye atau pilkada, calon kepala daerah memang selayaknya mengusung program yang juga menyentuh aspek reliji.
 
Menurutnya, proses demokrasi tidak harus selalu diisi kampanye yang berisi program pembangunan semata seperti ekonomi atau infrastruktur, tapi juga pembangunan manusia yang berakhlak, dengan landasan keagamaan.
 
“Mengaji tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Itu sangat luar biasa, saya sangat mendukung,” jelasnya.
 
Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, KH Cholil Nafis mengatakan hal senada. "Saya kira itu program yang baik dan patut didukung, mengaji setelah maghrib sampai Isya itu memang budaya dan tradisi yang harus dilestarikan, kalau yang sudah bisa baca ya baca Alquran, kalau belum bisa baca, ya murojaahnya, atau mengulang,” ujarnya saat dihubungi Selasa, 27 Oktober 2020.
 
Dikatakan Cholil, penerapan progam itu juga harus disesuaikan kondisi masyarakat di masing-masing daerah. “Tentunya program ini hanya berlaku untuk keluarga muslim. Memang sangat baik kita lestarikan setiap Maghrib itu semua kembali ke rumah, atau bisa juga mengaji di langgar (musala) atau masjid terdekat,” tuturnya.
 
Selain itu, kata dia, perlu ada pengaturan juga waktu mengaji dan waktu belajar di sekolah. Selama pandemi Covid, kata Cholil, mungkin kegiatan lebih banyak dilakukan di rumah, namun setelah pandemi bisa saja kegiatan Kembali dilakukan di rumah ibadah.
 
“Nanti mungkin ada perubahan setelah pandemi, kepala daerah juga perlu aktif menghidupkan kembali kegiatan di masjid-masjid dan musala,” ujarnya.
 
Sebelumnya, Pasangan Jarot-Mokhlis berniat menjadikan anak dan pemuda sebagai sasaran program “maghrib mengaji”.
 
Mokhlis mengatakan, saat ia menjadi Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip di Provinsi NTB dirinya banyak bersentuhan dengan budayawan. Ia menilai ‘Maghrib Mengaji’ bisa menciptakan generasi muda berilmu agama yang kuat sebagai dasar ketahanan keluarga dari berbagai hal negatif.
 
“Termasuk peredaran narkoba yang sangat meresahkan,” ujarnya dalam acara diskusi publik ‘Meneropong Arah Baru Sumbawa 2020 Jilid III’ yang digelar Forum Mahasiswa Hukum Samawa Fakultas Hukum Universitas Mataram pekan lalu.
 
Ia mengatakan bahwa masyarakat Sumbawa bukan saja kaya akan Sumber Daya Alam dan budaya tetapi juga memiliki banyak SDM yang berkualitas.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif