Medcom.id: ilustrasi
Medcom.id: ilustrasi (Suwatno)

Suwatno

Guru Besar Komunikasi Organisasi Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia

Informasi di Era Pandemi

Pilar informasi di era pandemi
Suwatno • 03 Juli 2020 17:05
LEBIH dari dua abad yang lalu, Napoleon Bonaparte sudah mengatakan bahwa “war is 90% information” (perang berhubungan dengan 90% informasi). Siapa yang paling menguasai informasi, merekalah yang paling berpeluang memenangkan peperangan.
 
Hari ini, dunia sedang berperang melawan pandemi covid-19. Bagi para pelaku bisnis, menghadapi situasi saat ini tidaklah mudah. Sudah ratusan ribu perusahaan gulung tikar, atau sekurang-kurangnya mengalami krisis. Sebagian diantaranya adalah perusahaan-perusahaan raksasa.
 
Di sektor penerbangan, sebutlah misalnya maskapai Air Asia, Flybe, dan Virgin Australia. Di dunia UMKM, tidak sedikit pula yang sekarat hingga berhenti beroperasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Namun, pandemi ini sejatinya memiliki dua sisi. Ada bidang-bidang bisnis yang mengalami penuruan (decline), namun sebagian lainnya justru mengalami pertumbuhan (growing). Dalam teori business lifecycle, fase pertumbuhan dan penurunan adalah sebuah keniscayaan yang hampir dipastikan terjadi. Bedanya, hari ini kedua tahapan tersebut terakselerasi. Bidang-bidang seperti pariwisata, pertambangan, perhotelan, restoran dan sejenisnya mengalami kesulitan operasi. Sebaliknya, sektor-sektor seperti retail, makanan, kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, diuntungkan oleh keadaan.
 
Penguasaan informasi
 
Dalam situasi seperti ini, penguasaan terhadap informasi menjadi variabel yang sangat menentukan dalam mengatasi persoalan bisnis. Dalam hal ini, informasi setidaknya memiliki tiga kegunaan, yakni sebagai detector, predictor dan monitor.
 
Pertama, sebagai pendeteksi (detector), informasi dapat digunakan oleh para pelaku bisnis untuk mengidentifikasi masalah sejak dini. Hal ini menuntut setiap pelaku bisnis untuk menginstal software pengetahuan terhadap potensi terjadinya krisis.
 
Dengan pengetahun tersebut, mereka akan lebih siap menghadapi perubahan radikal. Apabila pelaku bisnis memiliki hal ini, seharusnya begitu mereka mendeteksi potensi perubahan akibat pandemi covid-19, mereka langsung menyiapkan desain perubahan model bisnis (business model) hingga model operasinya (operation model).


Bidang-bidang seperti pariwisata, pertambangan, perhotelan, restoran dan sejenisnya mengalami kesulitan operasi. Sebaliknya, sektor-sektor seperti retail, makanan, kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, diuntungkan oleh keadaan.


 
Beberapa perusahaan tekstil yang dengan sigap “banting setir” memproduksi Alat Pelindung Diri (APD), adalah contoh mereka yang mampu melakukan deteksi sejak awal. Mereka adalah pebisnis-pebisnis yang mampu memaksimalisasi fungsi informasi sebagai bahan merumuskan kebijakan baru yang tepat.
 
Mereka membaca dengan cermat informasi dari para epidemiolog yang menyebutkan bahwa pandemi covid-19 akan memakan waktu yang tidak singkat. Dengan pengetahuan ini, mereka menjadi sadar bahwa menunggu pandemi berahir tanpa melakukan transformasi bisnis adalah tindakan bunuh diri.
 
Kedua, sebagai peramal (predictor), informasi sangat penting untuk memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan demikian, para pelaku bisnis dapat mempersiapkan skenario terbaik untuk menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi. Para pelaku bisnis seharusnya memiliki sense of prediction begitu mereka memperoleh informasi tentang kemunculan sebuah virus berbahaya di Wuhan.
 
Mengapa berbahaya? Karena penyebarannya bersifat human to human, hingga kota Wuhan ditutup (lockdown) sejak bulan pertama virus tersebut menyerang warganya. Apabila informasi tersebut mampu diolah menghasilkan prediksi yang menyajikan kemungkinan-kemungkinan, seharusnya para pelaku bisnis di Indonesia lebih siap.
 
Skenario antisipatif
 
Bagi para pebisnis di sektor pariwisata, misalnya, sebetulnya bisa langsung menyiapkan skenario antisipatifnya, misalnya dengan menyediakan layanan “long-term booking” berdiskon besar untuk paket wisata dengan pemberangkatan tahun berikutnya.
 
Atau jika terpaksa, mereka bisa mengubah core bisnisnya secara total menjadi bisnis lain yang masuk kategori growing business di masa pandemi. Yang pasti, kemampuan prediktif harus ditopang oleh keberanian melakukan transformasi inovatif.
 
Hal ini tentu akan jauh lebih baik dibanding bertransformasi setelah situasinya semakin tidak terkendali. Ilmu perang Sun Tzu mengajarkan kita bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang. Dalam situasi sekarang, kemampuan prediktif ini seharusnya digunakan untuk melakukan inisiasi transformasi bisnis.
 
Ketiga, sebagai pemantau (monitor), informasi berguna untuk merekam dan terus mengawasi perkembangan yang terjadi detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari. Sebagai pelaku bisnis, mereka tidak boleh malas memperbaharui (updating) informasi mengenai dampak dan penanggulangan covid-19. Bagaimana trennya? Kota mana saja yang terdampak paling parah? Apakah itu mengancam target market bisnis mereka?


Atau jika terpaksa, mereka bisa mengubahcorebisnisnya secara total menjadi bisnis lain yang masuk kategorigrowing businessdi masa pandemi. Yang pasti, kemampuan prediktif harus ditopang oleh keberanian melakukan transformasi inovatif.


 
Informasi yang ada harus digunakan untuk terus memonitor landscape geografis, demografis dan psikografis dari market yang menjadi sasaran bisnis. Tentu disesuaikan dengan produk dan layanan yang ditawarkan, apakah pasarnya adalah mereka yang tinggal di daerah-daerah berzona merah, kuning, atau hijau? Apakah penawaran sebaiknya dilakukan secara business-to-consumer (B2C) ataukah business-to-business (B2B).
 
Untuk itu, semua pelaku bisnis harus menyadari bahwa peran informasi sangatlah krusial. Information is a king, kata Lois Horowitz.
 
Di era 4.0 hari ini, setiap pebisnis sejatinya memiliki kesempatan untuk memanfaatkan big data dalam membantu merumuskan strategi bisnis dan pemasaran. Menurut McKinsey, big data merupakan basis utama dari setiap persaingan antar organisasi/perusahaan. Sehingga jika perusahaan tidak memanfaatkan big data untuk mendukung aktivitas bisnis mereka, kemungkinan mereka akan tergerus oleh perusahaan yang lebih menguasai data.
 
Dari perspektif daya saing dan potensi perolehan nilai, semua perusahaan harus serius dalam menggunakan big data. Di sebagian besar industri, kompetitor yang sudah mapan maupun pendatang baru akan memanfaatkan strategi berbasis data untuk berinovasi, bersaing, dan menangkap nilai dari informasi yang mendalam dan terkini.
 
Di masa pandemi seperti saat ini, kompetisi antar bisnis pastinya akan semakin sengit. Di sinilah ujiannya. Bahkan boleh jadi ini bukanlah ujian pertama dan terahir.[]
 
*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id.

 
TERKAIT

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif