Ilustrasi bioskop sepi. Foto: MI/Ramdani
Ilustrasi bioskop sepi. Foto: MI/Ramdani (Rheza Ardiansyah)

Rheza Ardiansyah

Jurnalis TV Berita

Sub-Zero dan Nasib Bioskop

Pilar Film Habibie & Ainun 3 Film Yowis Ben 3 pandemi covid-19 bioskop
Rheza Ardiansyah • 20 April 2021 09:00
PECAH rekor saya. Rekor setahun enggak nonton di bioskop. Pekan ini saya nonton Mortal Kombat, film yang dibintangi aktor Indonesia Joe Taslim. Nama aktor kelahiran Palembang itu memang jadi salah satu daya tarik bagi saya—selain tentu saja pamor Mortal Kombat yang sudah terkenal sejak tahun 90-an. Kapan lagi lihat fatality di bioskop?
 
Terlepas dari kekecewaan akibat beberapa adegan fatal yang disensor, pengalaman menyaksikan laga di bioskop, bagi saya tetap memuaskan. Layar besar dan suara menggelegar membuat pertarungan para jagoan lintas jagat terasa lebih seru. Memang begitulah asiknya nonton di bioskop.
 
Sebenarnya, kali pertama saya duduk di kursi penonton sinema semasa pandemi: akhir Maret lalu. Waktu itu saya bertugas sebagai produser untuk tayangan program 15 Minutes Metro TV episode “Evolusi Nonton Film”. Ketika duduk di kursi 4DX di depan layar yang menampilkan pertarungan Kong dan Godzilla, ada dorongan lagi buat namatin satu film di bioskop.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Dalam peliputan itu pula, saya mendapat perspektif menarik tentang bagaimana industri film menggeliat, tersungkur, lalu bangkit lagi. Sebelum pandemi, perfilman Indonesia memang sedang kencang-kencangnya.

Stok film di bioskop

Ada 129 judul film yang dirilis tahun 2019 di bioskop. Sementara, sepanjang setahun berikutnya, antisipasi wabah covid-19 mengakibatkan hanya tujuh film yang dirilis di bioskop. Sekarang, vaksin sudah mulai disuntikkan dan bioskop bisa dibuka lagi—di beberapa daerah sejak Oktober 2020. Meski begitu, pantulan bandul keadaan belum berbalik seperti kondisi 2019. Hingga Maret 2021, baru ada 12 judul yang ditayangkan di jaringan bioskop Cinema XXI. Itu data dari Dewinta Hutagaol selaku Head of Corporate Communications and Brand Management Cinema XXI, sebagaimana dikutip Majalah Tempo edisi pekan ini.
 
Sementara, menurut Hariman Chalid selaku public relations CGV, seretnya stok film di bioskop diakibatkan imbas dari strategi produser. Para pemilik rumah produksi film sengaja belum menayangkan judul yang sudah mereka buat, demi menghindari kerugian. Fajar Nugros mengamini itu. Sutradara yang mengepalai IDN Pictures ini belum menayangkan Yo Wis Ben 3.

Melawan ketidakpastian

Meski demikian, Fajar tetap tancap gas menjalankan proses pengerjaan film Balada Si Roy. Dalam rekaman video behind the scene, terlihat para kru dites usap di lokasi syuting yang memberlakukan sistem zonasi—untuk mengantisipasi penularan covid-19.
 
“Yang paling besar itu ketidakpastian. Kalau director tertular, gimana? Kalau pemain utama tertular, break. Break gimana? Harus dikarantina 14 hari di mana? Siapa yang membiayai, kan jadi besar banget,” Kata Fajar ketika ditanya presenter program 15 Minutes Wahyu Wiwoho tentang pertimbangan utama produksi film di tengah pandemi.
 
“Kira-kira satu miliar (rupiah) sendiri manajemen kesehatan dan protokol kesehatan.” Fajar menambahkan.
 
Perlahan-lahan, ketidakpastian yang ia khawatirkan berupaya dientaskan. Salah satunya, melalui lawatan para insan perfilman ke Istana Presiden bulan Maret lalu.
 
“Kita berharap ada insentif untuk produser yang berani menayangkan filmnya pada hari-hari awal itu. Misalnya, penontonnya hanya 100 ribu orang. Budget-nya berapa nih? Oke berarti ada insentif dari pemerintah: budget penonton itu dikali dua kek, dikali tiga kek, dan itu di-share kepada bioskop dan kepada produsernya.”
 
Selain insentif, Fajar juga mendorong agar pemerintah mempromosikan lagi ajakan menonton di bioskop. “Dulu ada campaign ‘Di rumah aja’. Nah, sekarang pemerintah juga harus lakukan campaign yang sama untuk membuat orang merasa nyaman ke mana pun mereka mau berbisnis, beraktivitas. Supaya fair.”
 
Gayung pun bersambut. Bertepatan dengan Hari Film Nasional pada 31 Maret 2021, sejumlah menteri nonton film Habibie & Ainun 3 di bioskop. Meski digelar oleh Golkar, ketua umum partai berlambang pohon beringin sekaligus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian itu mengaku bahwa inisiatifnya merupakan amanat dari Presiden Jokowi.
 
“Pak Presiden titip, mencarikan jalan untuk restart industri film,” kata Airlangga sebagaimana tertulis dalam Majalah Tempo.

Jalur streaming

Meski ajakan buat nonton di bioskop mulai digalakkan, nonton lewat layanan over the top (OTT) juga bisa jadi pilihan. Dari sudut pandang penonton, perbedaannya ada di media. Menonton di ruang teater tentu berbeda rasa dibandingkan dengan menonton di rumah—meski filmnya misalnya sama.
 
Dari sisi produser film, urusan cuan jadi faktor yang juga membedakan. Kalau diputar di bioskop—mengacu ke istilah yang disebut Fajar Nugros—it’s more gambling.
 
“Selama masih bisa ditonton, ya pemasukannya akan terus masuk. Nggak terbatas. Bisa sejuta, dua juta penonton, tiga juga penonton. Tapi juga bisa nggak laku,” papar Fajar.
 
Sementara, ketika sebuah judul tayang di OTT, harganya tetap. Mau banyak atau sedikit yang nonton, pembuat film hanya menerima satu resi pembayaran dari pihak OTT.
 
Sutradara Riri Riza pernah berbicara soal ini lewat Kompas.id pada 27 September 2020. “Ditonton lebih dari satu juta penonton di bioskop sudah untung. Untuk OTT, masih sulit dibayangkan,” katanya.

Jalan tengah

Tapi toh, nyatanya OTT jadi salah satu alternatif buat industri perfilman sintas. Meski itu tadi, angka profit dan impresi sinematiknya beda. Jalan tengahnya gimana?
 
Menurut Fajar, produser film mustinya berembuk. “At the end of the day, habis (tayang) dari bioskop, emang bisa ke OTT. Problem-nya sekarang adalah berapa jangka waktunya. Jadi, tidak bisa misalnya kita tayang di bioskop Januari, Februari udah di OTT. Orang akan nunggu (tayang di OTT) kalau gitu.”
 
“Harus ada kesepakatan bersama antarproduser karena OTT dan bioskop hanya platform dan platform,” Fajar menyimpulkan.
 
Faktanya, sebuah film bisa beralih medium penayangan hanya dalam waktu singkat. Raya and the Last Dragon jadi contohnya. Awal Maret lalu, film animasi ini tayang di bioskop. Lalu sebulan kemudian, aksi Raya bisa kita tonton di OTT Disney Plus.
 
Bagaimana pun, teknologi gambar bergerak yang ditemukan pertama kali tahun 1888 ini, akan selalu punya jalan. Cerita akan menemui kita dengan caranya tersendiri. Dulu lisan, lalu tulisan. Berlanjut berupa audio, kemudian audio-visual (alias film).
 
Ke depannya, apa lagi? Entah. Yang jelas, sekarang kita punya pilihan berikut ini. Dalam konteks Mortal Kombat, Anda bisa menunggu hingga 23 April untuk nonton Joe Taslim sebagai Sub-Zero melalui HBO Max. Atau, jika Anda memutuskan pergi ke bioskop, ikuti juga anjuran Sub-Zero kebanggaan kita lewat akun Instagramnya: “yang berantem di layar maskeran, yang nonton kudu juga maskeran biar harmonis.[]
 
*Rheza Ardiansyah, Pemerhati Film
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif