Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id (M Tata Taufik)

M Tata Taufik

Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat

Aset Maknawi

Pilar kehidupan Dunia Usaha aset negara
M Tata Taufik • 22 Februari 2021 07:23
ASET suatu kata yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, terutama jika topik pembicaraan terkait dengan masalah ekonomi dan kenegaraan. Secara bahasa, aset menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah 'sesuatu yang mempunyai nilai tukar'. Aset juga diartikan 'modal atau kekayaan'. Dalam bahasa Inggris, pengertian aset sama seperti dalam bahasa Arab, yakni al-Ashl (?????).
 
Dalam dunia usaha dikembangkan konsep masyarakat sebagai aset bagi perusahaan. Diasumsikan bahwa masyarakat setiap saat ada saja yang melakukan usaha, membuka usaha baru, atau untuk mengembangkan pemasaran produknya.
 
Perusahaan akan memandang bahwa kegiatan masyarakat dalam membuka usaha itu sebagai aset. Artinya, jika setiap 5 menit ada orang yang membuka katakanlah warung baru, maka tim pemasaran harus mendatanginya untuk dihimpun menjadi aset yang bisa dijadikan pengembangan perusahaan. Jadi, tidak ada alasan bagi tim pemasaran untuk tidak mendapatkan outlet baru setiap harinya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Tradisi dan pola hidup masyarakat juga terkadang dinilai sebagai aset. Tradisi minum kopi pada tahun 70-an misalnya. Biasanya warung-warung kecil di perdesaan menjual kopi bubuk plus gula dalam kemasan kertas (seperti pejual kacang rebus di jalanan). Lalu oleh perusahaan kopi dikembangkan kopi dan gula yang dijual dalam rentengan saset. Kopi kemasan itu dijual untuk sekali seduh yang kini menjamur dengan berbagai varian. Belum lagi tradisi keagamaan seperti hari raya dan puasa yang dipandang sebagai aset untuk memacu penjualan produk tertentu.
 
Berbicara masalah aset berarti berbicara keuntungan yang didapat atau modal yang bisa menghasilkan keuntungan. Memandang orang lain sebagai aset itu bisa berdampak positif atau negatif.
 
Cara pandang seorang penipu ketika bertemu dengan seseorang, mungkin akan berpikir bahwa orang tersebut adalah calon sasarannya (calon korbannya). Demikian juga pencopet dan lainnya yang memang pekerjaannya merugikan orang lain untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Ini contoh dari dampak negatif.
 
Ada orang lain lagi dengan profesi pedagang akan memandang orang yang ditemui di sekitarnya sebagai sasaran penjualan atau calon pembeli dari dagangannya. Begitu juga dengan kegiatan positif lainnya yang tidak bertentangan dengan norma dan ketentuan yang disepakati: baik-buruk, halal-haram, atau boleh-tidak boleh.

Aset maknawi

Aset tak melulu berhubungan dengan bisnis atau ekonomi. Sebagai individu, berusaha berbuat baik dalam menjalani kehidupan juga merupakan sebuah aset. Perbuatan baik tak jarang membuahkan keuntungan secara makro. Dalam arti, bukan sekadar keuntungan kebendaan, tapi juga keuntungan maknawi yang bisa bermanfaat baik di dunia maupun akhirat.
 
Ada sabda Rasulullah SAW berkenaan dengan cara pandang sesuatu sebagai aset yang menguntungkan bagi seseorang. Hadis riwayat Abu Hurairah RA menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang saat namaku disebut, dia tidak bersalawat kepadaku. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang datang kepadanya Ramadan, kemudian bulan tersebut berlalu sebelum diampuni dosa-dosanya. Sungguh sangat terhina dan rendah seseorang yang mendapati kedua orang tuanya lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” (HR Tirmidzi)
 
Hadis ini dalam keterangannya disebutkan bahwa Rasulullah suatu saat mengucapkan amin, amin, dan amin. Lalu para sahabat bertanya, kenapa ya Rasulullah? Kemudian beliau menjawab bahwa telah datang Jibril AS dan memerintahkannya untuk mengaminkan atas apa yang akan disampaikannya. Lalu Jibril menyampaikan hadis di atas.
 
Dari hadis ini kita bisa melihat bagaimana Rasulullah mengajarkan cara pandang terhadap aset. Pertama, penyebutan nama Rasulullah yang didengar adalah aset bagi pendengarnya untuk mendapat keuntungan dengan bersalawat kepadanya (siapa yang bersalawat kepadaku satu kali Allah akan bersalawat kepada orang tersebut sepuluh kali).
 
Kedua, memandang Ramadan sebagai aset untuk mendapat ampunan. Dan ketiga, memandang orang tua sebagai aset yang harus diusahakan agar bisa memasukkan dirinya ke surga nanti, yakni dengan senantiasa berbakti dan berbuat baik kepada keduanya.
 
Disadari atau tidak, ada banyak hal yang bisa kita jadikan “sumber keuntungan” dalam kehidupan sehari-hari. Baik dari orang-orang yang ada di sekitar kita maupun dari para pendahulu kita sesama muslim dan orang-orang saleh. Bahkan, dalam sembahyang sekalipun.
 
Seperti pada saat duduk tasyahud (tahiyat). Doa yang dipanjatkan adalah memohonkan keselamatan untuk nabi, untuk diri sendiri dan orang-orang saleh, serta salawat kepada nabi.
 
Saat saling berjumpa kita juga mohonkan keselamatan untuk orang yang kita jumpai. Kita juga senantiasa mendoakan orang-orang terdahulu, sesama kaum muslimin. Semuanya menunjukkan bahwa ada aset dari setiap orang yang ditemui maupun yang dikenali atau tidak dikenali untuk membuat kita selamat dan berhak menyandang pahala.
 
Menilik hadis di atas, dengan menggunakan pola yang dipakai dalam memandang sesuatu sebagai aset yang bisa menguntungkan, maka bisa dikembangkan secara mendiri dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
 
1. Bila ketemu seseorang, bisakah orang itu memasukkan (menjadi wasilah) aku ke surga?
2. Sebagai orang tua, bisakah anak-anakku memasukkan aku ke surga?
3. Sebagai teman sejawat, atasan, bawahan, pengurus organisasi, pejabat negara, profesi, sebagai guru atau murid, sebagai pelaku usaha, sebagai tetangga dan seterusnya, pertanyaan serupa pun bisa diajukan.
 
Sebagai penutup, dapat disampaikan bahwa prestasi yang kita capai hari ini boleh jadi karena doa-doa sesama muslim yang senantiasa mereka panjatkan. Bisa jadi karena penghargaan yang mereka berikan atau mungkin karena kebaikan mereka.
 
Pendek kata, kita adalah aset bagi sesama dan mereka adalah aset bagi kita. Karena hidup adalah perdagangan--meminjam istilah Alquran.
 
*M Tata Taufik adalah Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash, Kuningan, Jawa Barat
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif