KRI Bima Suci bersandar di Dermaga JICT II Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (16/11/2017). Foto: MI/Arya Manggala
KRI Bima Suci bersandar di Dermaga JICT II Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (16/11/2017). Foto: MI/Arya Manggala (Yudhie Haryono)

Yudhie Haryono

Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Mendesain Ulang Indonesia sebagai Negara Maritim Modern

Pilar kemaritiman poros maritim dunia
Yudhie Haryono • 23 Februari 2021 11:20
TANPA ingatan, tak ada masa lalu. Tanpa gagasan, tak ada masa kini. Tanpa harapan, tak ada masa depan. Manusia Indonesia dan negara-negara post-colonial kini menghadapi punahnya ingatan dan hancurnya harapan. Padahal, tanpa hadirnya ingatan dan harapan, negara bagaikan tubuh tanpa nalar. Goyah dan tak tentu arah. Politik ingatan yang hadir akan memberikan waktu kebersamaan dan kesatuan tujuan serta kebermaknaan.
 
Karena itu, kita jadi ingat bahwa Indonesia adalah negara yang dilintasi Garis Khatulistiwa dan berada di antara Benua Asia dan Benua Australia, serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Negeri Bahari terkaya sumber daya alamnya. Jika kita miskin, maka ada yang salah dalam pengelolaannya, dan kita semua bertanggung jawab untuk mengoreksinya.
 
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari kurang lebih 17.000 pulau. Oleh karena itu, Indonesia disebut juga sebagai Nusantara. Bagi Indonesia, tujuan negara terdapat dalam alinea keempat pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yaitu: 1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; 2) Memajukan kesejahteraan umum; 3) Mencerdaskan kehidupan bangsa; 4) Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Dengan kesadaran itu, model pembangunannya dari pinggiran, menyeluruh, merata, lautan-daratan-udara, keberlanjutan dan pelestarian lingkungan, bineka, multikultural, serbuk sari, serta hibrida. Inilah nalar sadar waktu karena kita mewarisi Sriwijaya dan Majapahit sebagai bangsa bahari. Tetapi, itu semua tak akan digdaya di zaman global kecuali tumbuhnya prakarsa modernitas-moralitas. Sebuah prakarsa hidup yang bersendikan iptek dan imtak hingga menjadi worldview. Satu peradaban rasionalistis yang humanis dan humanis yang rasionalistis. Singkatnya, politik ingatan itu membawa konsekuensi bagi terbentuknya negara kelautan modern, poros maritim dunia, jalur rempah nusantara, sehingga dunia bagian dari Indonesia: bukan sebaliknya.

Politik harapan

Sementara politik harapan mendesain kita pada upaya raksasa menghadirkan ideologi dunia yang akumulatif, yaitu Pancasila. Satu ide yang mengerjakan lima dentuman peradaban agung: 1). Mengelola hasrat untuk mencapai konsensus; 2) Mencapai kedaulatan bersama; 3) Memelihara dan mengembangkan keaslian budaya; 4) Mentradisikan kemandirian dan kerja sama; 5) Mencapai kehormatan dan kemartabatan bersama.
 
Kita tahu bahwa Indonesia ada karena revolusi; hadir karena melawan; terlahir karena perjuangan. Karena itu semangat para pejuang melawan kolonialisme adalah dasar nasionalisme di negeri ini. Tanpa itu semua, Indonesia absen.
 
Sejarah telah mencatat betapa gencarnya perlawanan para pribumi melawan ketidakadilan dan kezaliman penjajah di kala itu. Sejak abad ke-15 Masehi, rakyat bersama para elite pemimpin dan priyayi menentang para penjajah dengan melakukan perlawanan secara terus menerus hingga kini. Tanpa itu semua, kita tak ada.
 
Itu artinya aneh jika kita membangun pulau buatan di negeri kepulauan. Aneh jika kita membangun tanah air dengan skema pertumbuhan dan utang. Aneh jika negara membangun warganya dengan menggusur mereka. Aneh jika para koruptor dan pengemplang pajak dihormati di negeri ini.
 
Jika tak paham juga, mari sejenak menyanyi lagu maritim karya Ibu Sud sebagai cara mengingat dan mengharap: Nenek moyangku orang pelaut/Gemar mengarung luas samudra/Menerjang ombak tiada takut/Menempuh badai sudah biasa/Angin bertiup layar terkembang/Ombak berdebur di tepi pantai/Pemuda berani bangkit sekarang/Ke laut kita beramai-ramai/.

Potensi maritim

Sepertinya ada yang alpa dan belum maksimal dari program dan konsep pemerintahan hari ini dalam merealisasikan gagasan pembangunan nasional terkait potensi maritim, laut, dan SDA samudra Indonesia. Oleh karena itu, tentu kita berharap ada terobosan desain dan aksi pembangunan untuk memaksimalkan potensinya.
 
Sejarah mencatat, betapa gagah dan beraninya nenek moyang kita dahulu berjaya di laut dan memanfaatkan SDA tersebut sehingga mempersatukan Nusantara walaupun teknologi saat itu masih tradisional. Jadi, sejarah kita adalah sejarah maritim. Apa buktinya? Pertama, kita ahli waris bangsa laut dari Sriwijaya dan Majapahit. Kedua, kita memiliki yurisdiksi atas wilayah laut seluas 3,2 juta km2, jauh lebih luas dari daratan yang luasnya hanya 1,9 juta km2.
 
Inilah mengapa Bung Karno mengatakan bahwa Indonesia ibarat lautan yang ditaburi pulau-pulau. Keberadaan 17.508 pulau menjadikan kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Garis pantai sepanjang 95.181 km menempatkan Indonesia sebagai negara keempat yang memiliki garis pantai terpanjang setelah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. Dus, kita bukan hanya poros maritim dunia (PMD) karena berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, tetapi juga poros benua dunia (PBD) karena berada di antara Benua Asia dan Benua Australia.
 
Sebagai negeri bahari kita memiliki kekayaan ikan yang potensial ditangkap sebesar 6,4 juta per tahun. Terumbu karang tempat ikan 60 ribu hingga 85,7 ribu km2. Ada tambang pada 70% kawasan pesisir dan laut serta 40% cekungan lepas pantai. Saat bersamaan, perbedaan pasang-surut, matahari, angin, gelombang, gas hidrat metan, ocean termal dan arus laut juga potensial dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Dengan potensi sebesar itu para pengusaha kita harus mengantisipasi dan merebut peluang pasarnya.

Jalur rempah

Memang, akibat kolonialisme dunia lebih mengenal jalur sutra China, jalur bahasa Inggris dan jalur orientalisme Amerika. Padahal, kita punya jalur rempah yang memberi pengaruh pada kehidupan Indonesia dan dunia di masa kini. Rempah telah diperdagangkan berabad lamanya sebelum masehi. Perdagangan ini menempuh Asia Selatan hingga Timur tengah dan Eropa, dilakukan oleh pedagang Arab dan Cina. Di masa itu rempah-rempah miliki peranan penting bagi kehidupan, mulai dari urusan citarasa masakan, hingga mengawetkan mayat.
 
Menurut para sejarawan, dengan kemajuan teknologi, khususnya di bidang kartografi dan astronomi, pada abad ke 15 dan 16, penjelajah Eropa seperti Christopher Columbus dari Italia dan Portugis Vasco da Gama mencari jalan ke daerah asal rempah-rempah. Para pedagang Asia Selatan menyembunyikan peta ke daerah tersebut, hingga orang Eropa tak dapat menemukannya.
 
Agar dapat menguasai komoditas rempah, ekspedisi penjelajah Eropa sangat agresif. Di tengah kehidupan feodal masyarakat Eropa, penguasaan atas rempah dianggap penting agar pemiliknya dapat disejajarkan dengan golongan elite. Para penjelajah mengorbankan hidup mereka untuk menguasai rempah-rempah di Asia Tenggara.
 
Singkatnya, jalur rempah berbasis hasil bumi dan laut harus direkapitalisasi. Ini tugas mulia yang kita emban bersama demi merealisasikan cita-cita proklamasi, menjalankan amanah konstitusi, menggemukkan APBN, mengentaskan kemiskinan dan menghilangkan kesenjangan, serta memartabatkan negara di mata dunia. Inilah desain negara kelautan modern yang harusnya kita tuju bersama.
 
Melampaui itu semua, ke depan kita tentu berharap pemerintah melakukan penajaman kembali gagasan program dan kebijakan strategis terkait samudra Indonesia. Baik dalam perangkat UU, Anggaran, SDM, dan strategi pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kemauan politik pemerintah, dalam hal ini Presiden, akan menjadi penentu arah pembangunan nasional di bidang maritim. Sebab, mestinya kita malu kalau miskin dan banyak utang di tengah kekayaan yang melimpah.[]
 
*Yudhie Haryono adalah Direktur Eksekutif Nusantara Centre
 

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif