Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (kanan) meninjau produk UMKM Bali yang dipamerkan saat kunjungan kerja di Rumah Sanur, Denpasar, Bali, Minggu (6/9/2020). Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki (kanan) meninjau produk UMKM Bali yang dipamerkan saat kunjungan kerja di Rumah Sanur, Denpasar, Bali, Minggu (6/9/2020). Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo (Ade Hapsari Lestarini, Fetry Wuryasti)

Wawancara Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki

Beda dengan Krisis 1998, UMKM Berdarah-darah di Masa Pandemi Covid-19

Pilar Virus Korona UMKM Konvergensi MGN
Ade Hapsari Lestarini, Fetry Wuryasti • 09 September 2020 11:43
Jakarta: Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki memberi gambaran jelas mengenai situasi mikro kecil dan menengah (UMKM) kini dan masa lalu. Pada krisis ekonomi 1998, UMKM mampu menjadi pahlawan. Kini, saat krisis kembali melanda akibat pandemi coronavirus disease 2019 (covid-19), situasinya justru lain.
 
Alih-alih kembali menjadi pahlawan, banyak UMKM yang justru kelelahan. Pandemi yang terus bergulir hingga kurun delapan bulan membuat UMKM keteteran. Bensin mereka hampir habis, sementara pandemi tak kunjung mengempis.
 
Media Group News berbincang dengan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki akhir pekan lalu untuk membahas bagaimana agar UMKM tetap bisa berkontribusi terhadap pergerakan ekonomi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


 
Bagaimana update kondisi pelaku usaha UMKM di masa pandemi ini? Pandemi covid-19 ini diperkirakan masih berlangsung dalam satu dua tahun mendatang. Artinya dari sisi ekonomi, masih akan sangat bergantung pada ekonomi domestik, terutama yang bisa meng-address masalah lapangan kerja, pangan, dan kesehatan. Tiga aspek itu yang sekarang paling nyata kita hadapi.
 
Angka pengangguran dan kemiskinan terus meningkat karena pandemi ini membuat orang kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Hal ini berakibat pada daya beli yang terus turun.
 
Kedua, sekarang selain ada ancaman krisis pangan seperti yang Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) ingatkan, konsumsi masyarakat melemah. Daya beli turun. Masyarakat lebih memprioritaskan pada kebutuhan pokok, kebutuhan sekolah, dan pemeliharaan kesehatan.
Untuk itu, ekonomi domestik yang bisa diandalkan adalah UMKM. Saat ini UMKM memang terdampak luar biasa. Hal ini berbeda dengan 1998. Saat itu krisisnya hanya terjadi di dalam negeri, sehingga dahulu UMKM tampil sebagai penyelamat ekonomi nasional dengan ekspor naik 350 persen.
 
Sekarang yang terjadi justru krisis global. Saat ini UMKM amat terdampak terutama dari dua sisi, yakni pasokan dan permintaan.
 
Kami sejak awal Februari sudah membuka call center di kementerian untuk mengetahui apa saja dampaknya. Dari sampel yang kami lakukan, sebanyak lebih dari 200 ribu sampel, ditemukan mayoritas UMKM bermasalah di pembiayaan, menurunnya permintaan, dan terganggunya distribusi bahan baku.
 
Survei Asian Development Bank (ADB) 17 April-22 Mei 2020 di Indonesia, sebanyak 48,6 persen usaha UMKM gulung tikar. Setengahnya lagi tetap beroperasi di tengah gangguan pasokan dan permintaan yang rendah. Hasil ini hampir sama dengan data yang kami terima dari call center posko pengaduan.
 
Lalu, sekitar 60 persen UMKM mengurangi karyawan. Sebesar 55 persen UMKM menunda bahkan tidak ada kenaikan pembayaran upah. Ini menunjukkan memang sisi pasokan dan permintaan terganggu.

 
Read All

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif