Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Remaja, Ini Tips Memperkuat Jati Diri

Pendidikan kesehatan mental psikologi remaja
Ilham Pratama Putra • 20 Oktober 2021 12:04
Jakarta: Psikolog Anak dan Pendidikan, Nabila Dian Nirmala menyebut remaja saat ini sering mendiskreditkan diri mereka sendiri akibat memiliki kehidupan yang biasa. Ada tekanan tersendiri ketika melihat orang di lingkungan sosialnya memiliki kehidupan yang lebih baik.
 
Anggota Asosiasi Psikologi Sekolah Indonesia (APSI) itu menyebut para remaja tak boleh merasa tertekan jika melihat orang yang memiliki privilese. Sebab, menurut dia, privilese memiliki penjabaran yang sangat luas.
 
"Kalau kita bicara privilese, kalau dari psikologi diri, kita akan melihat apa yang terjadi dalam hidup kita, itu terjadi dari dalam diri secara internal atau eksternal kita," kata dia kepada Medcom.id, Rabu, 20 Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan, faktor eksternal seperti melihat privilise orang lain itu tidak perlu dilakukan. Yang perlu dimiliki adalah penguatan faktor internal dalam diri.
 
"Tapi yang kita perlu gaungkan adalah yang ada dalam diri. Jadi dari internalnya ini. Karena ada anak yang punya privilese tapi dia enggak bermanfaat untuk teman-temannya. Karena hidupnya enak jadi dia terlena,"  tuturnya.
 
Baca: Pakar UGM Ingatkan Bahaya Toxic Relationship di Kalangan Remaja
 
Nabila membagikan beberapa tips guna memperkuat diri secara internal. Berikut penjelasannya:

Meningkatkan Kapasitas Berpikir

"Artinya dari segi kemampuan berpikir. Kita sudah tahu belum sih seberapa besar wadah pemikiran kemampuan berfikir kita.  Itu yang ternyata sesekali kita tes psikotes itu gunanya itu," sebutnya.

Mengenali Kemampuan Diri

Mengenali kemampuan diri bisa meliputi kemampuan fisik dalam artian yang lebih luas dari sekadar tampak rupawan.
 
"Misalnya kamu enggak ganteng, tapi kamu bisa ngapain nih dengan fisik kamu yang lengkap, fisik kuat  dan tinggi. Fisik itu kan enggak semua soal penampilan, tapi apa juga apa yang bisa kita lakukan dengan fisik kita. Pertanyaannya kalau ganteng doang enggak ngapa-ngapain, ya ngapain," tutur dia.

Penilaian yang Berimbang terhadap Diri Sendiri

Nabila mengatakan, hal ini bisa dimulai dari penguatan di berbagai sisi, mencari sisi positif untuk menutupi hal yang dirasa negatif.
 
"Aku jadi tahu, walaupun aku enggak ganteng dan bukan anak sultan, tapi aku merakyat, aku ikut kegiatan sosial di mana-mana. Kita tahu ada kurang tapi ya harus ingat ada positifnya," tutupnya.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif