Ilustrasi. Pexels.
Ilustrasi. Pexels.

Tips Mengelola Emosi saat Berpuasa di Tengah Pandemi

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Arga sumantri • 22 Mei 2020 12:00
Jakarta: Psikolog dari Universitas Airlangga (Unair) Tri Kurniati Ambarani berbagi tips mengelola emosi saat berpuasa di tengah pandemi virus korona (covid-19). Pengelolaan emosi penting guna memberikan dampak baik secara fisik maupun psikologis.
 
Rini, sapaannya, mengatakan, cara pertama yang bisa dilakukan yakni menyusun ulang target dan cara pencapaian beribadah selama Ramadan. Misalnya, kata dia, kebiasaan tarawih setiap malam di masjid dapat disesuaikan menjadi berjamaah setiap malam bersama anggota keluarga.
 
Kemudian, membuat daftar tugas atau tanggung jawab yang harus diselesaikan, baik tugas kantor, sekolah, atau tugas rumah. Membuat skala prioritas dapat menjadi solusi, untuk bisa menyelesaikan tugas secara bertahap dan disesuaikan dengan ritme aktivitas ibadah yang dilakukan di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Buatlah skala prioritas dan selesaikan tugas secara bertahap serta sesuaikan ritmenya dengan aktivitas beribadah di rumah," kata Rini mengutip laman Unair, Jumat, 22 Mei 2020.
 
Selanjutnya, mendata atau mengidentifikasi situasi-situasi yang mudah mendatangkan emosi negatif dapat dilakukan. Emosi negatif yang dirasakan dapat berupa rasa marah, sedih, kecewa, takut, kesepian, dan lainnya.
 
"Jika memungkinkan hindari situasi tersebut dengan melakukan aktivitas lain yang setara namun bertujuan sama," ungkapnya.
 
Menyediakan dan mengkreasi pojok ibadah di rumah juga bisa jadi cara mengelola emosi saat Ramadan di tengah pandemi. Kreasi pojok ibadah tersebut tidak harus besar, namun usahakan aktivitas ibadah dilakukan di tempat tesebut, sehingga suasana khas Ramadan tetap terasa.
 
Baca:Tips Memilih Sekolah yang Bisa Optimalkan Potensi Anak
 
Tips lainnya yaitu membuat ritual atau kebiasaan baru yang sesuai syariat di dalam keluarga. Kebiasan itu terkait pelaksanaan ibadah selama Ramadan yang melibatkan semua anggota keluarga.
 
"Libatkan semua anggota keluarga agar ritual tersebut menyenangkan bagi semua orang," ujarnya.
 
Dosen Fakultas Psikologi dari Departemen Psikologi Klinik dan Kesehatan Mental Unair itu mengungkapkan lebih baik berusaha menghargai capaian dalam beribadah yang telah kita raih, agar dapat mengindari rasa keputusasaan atau kekecewaan terhadap diri sendiri. Salah satunya, dapat dimulai dengan memahami keterbatasan diri selama situasi pandemi.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif