NEWSTICKER
Imuwan diaspora di Braunschweig, Jerman, Hutomo Suryo Wasisto.  Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan
Imuwan diaspora di Braunschweig, Jerman, Hutomo Suryo Wasisto. Foto: Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan

'Algoritma Membaca Paper Ilmiah'

Teknik Mudah Menyisir Paper Ilmiah

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Muhammad Syahrul Ramadhan • 04 Februari 2020 07:07
Jakarta: Membaca paper ilmiah atau karya ilmiah merupakan sebuah keniscayaan bagi seorang peneliti yang akan melakukan riset. Terlebih lagi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir, baik skripsi, tesis maupun disertasi.
 
Membaca paper ilmiah bisa menjadi pekerjaan yang sulit, bahkan membuat pusing jika tidak tahu triknya. Apalagi jumlah paper ilmiah juga banyak pilihan dan tidak sedikit yang membuat peneliti maupun mahasiswa seringkali kesulitan menemukan yang sesuai dengan materi penelitiannya.
 
Dalam proses pencarian paper yang sesuai, sering kali bukannya mendapatkan inspirasi, yang ada justru kerap menimbulkan frustasi. Tapi tenang, ternyata membaca paper ilmiah itu ada tekniknya, agar apa yang dicari cepat ditemukan dengan cepat, tepat dan cocok dengan riset yang akan dilakukan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Teknik ini dibagikan oleh Kepala Grup Riset Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing (OptoSense) di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA), Braunschweig, Jerman, Hutomo Suryo Wasisto. Hutomo atau yang akrab disapa Ito ini menyebut tekniknya sebagai 'Algoritma Membaca Paper Ilmiah'.
 
Ito menjelaskan, struktur paper ilmiah menjadi salah satu kunci untuk mempermudah membaca paper. Menurut Ito, acap kali mahasiswa maupun peneliti membaca paper dengan cara diurutkan mulai dari pembukaan sampai kesimpulan, dan itu menurutnya kesalahan yang mendasar.
 
"Referensi banyak sekali, pemula awam mulai riset awal biasanya diurutin. Kita tahu search paper banyak di Google. Itu enggak mungkin sehari selesai dan itu enggak efektif," terang Ito, Selasa, 4 Februari 2020.
 
Struktur paper ilmiahitu sendiri, kata Ito, terdiri atas judul, kata kunci, abstrak, pendahuluan, metode penelitian, hasil diskusi, kesimpulan dan referensi. Setelah mengenal struktur tersebut, baru selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengetahui cara membaca paper.
 
Ada dua fase membaca paper,pertama adalah survei. Survei dilakukan dengan melihat keococokan judul dengan riset. Jika tidak sesuai, kata Ito, langsung lewati.
 
"Baca keyword (kata kunci) di situ lihat abstraknya akan kelihatan apakah paper tersebut cocok atau tidak. Baca abstrak, kesimpulan, kalauenggak make senselangsungsetop, enggak perlu dilanjutin. Kalau menarik, kesimpulan cocok dengan paper, baru bisa lanjut," terangnya.
 
Setelah merasa cocok, ujar jebolan Universitas Gadjah Mada ini, dilanjutkan dengan fase kedua yakni membaca paper. Membaca tabel dan caption yang ada di hasil diskusi.
 
Ia pun membagikan tips ketika membaca tabel dilakukan dengan cepat dan cermat juga perlu kehati-hatian. Karena di situ menjelaskan sajian utama dari penelitian yang dilakukan.
 
"Gali lebih dalam, coba ngerti hasil interpretasi kalau tertarik baca experimentalmethod, bukan meniru plagiat. Riset yang sudah dipublikasikan harus dapat diproduksi lagi hasilnya oleh grup atau orang lain. Kalau metode yang ditampilkan tidak bisa menghasilkan hasil yang sama, maka akan menjadi tanda tanya besar," jelasnya.
 
Ito juga menambahkan, sebelum masuk pada hasil diskusi, terlebih dahulu bisa melihat introductionatau pendahuluan.
 
"Setelah membaca tabel dan gambar serta captionnya, maka kita bisa lihat introduction dulu kenapa riset itu dilakukan sebelum melangkah lebih jauh," ujar Ito.
 
Terakhir, setelah semua fase dilakukan, baru masuk dalam tahapan membuat note atau catatan. Ia pun menyarankan agar catatan dalam bentuk digital. Tujuannya agar lebih mudah diakses kembali.
 
Salah satunya bisa disimpan dalam Power point. Selain itu ia menyarankan untuk membaca paper berbentuk digital. Selain mudah untuk disimpan juga tidak berakhir di 'tukang gorengan' jika berbentuk kertas cetak.
 
"Kita sebaiknya menyimpan file dari papers itu secara urut berdasarkan tahun penerbitan atau temanya. Dan notes itu penting supaya nanti kita bisa buka lagi satu, dua, tiga, atau empat bulan lagi dan enggak harus baca paper dari awal lagi. Jangan sampai malah paper-paper itu jadi bungkus 'nasi kucing' di angkringan, lucu juga," ujar pria kelahiran Yogyakarta ini sambil berkelakar.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif