Ilustrasi. Foto: MI/Susanto
Ilustrasi. Foto: MI/Susanto

Pentingnya Menumbuhkan Edukasi Literasi Spasial Anak Sejak Dini

Pendidikan kemampuan literasi Literasi UGM
Arga sumantri • 28 Juli 2021 14:50
Yogyakarta: Minat dan bakat anak bisa digali sejak usia prasekolah. Bahkan, mengembangkan kemampuan literasi spasial dengan mengenalkan mereka pada ilmu geografi lewat foto, peta, dan membangun kemampuan menerjemahkan visualisasi dari gambar dan video gim.
 
Guru Besar Departemen Geografi Pembangunan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) R. Rijanta mengatakan anak-anak sejak kecil telah memiliki berbagai macam kemampuan kecerdasan. Seperti musical, visual-spatial, verbal-linguistic, logical-mathematical, bodily-kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, naturalistik, dan existential-moral.
 
Makanya, kemampuan anak dalam menerjemahkan visualisasi dari gambar dan bangunan ruang bisa diarahkan dalam membangun kecerdasan spasial. Caranya, dengan mengenalkan mereka untuk memahami gambar dua dan tiga dimensi, serta menempatkan aspek keruangan secara tepat dalam pengambilan keputusan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dorong mereka melakukan eksplorasi fisik keruangan secara aktif. Beri kesempatan anak membuat struktur dan bentukan tertentu seperti mainan lego atau bentuk bangunan lain. Kenalkan permainan membuat struktur tertentu dengan skema atau gambar," ungkapnya.
 
Baca: Pakar UI Bagikan Cara Meningkatkan Stabilitas Saturasi Oksigen
 
Anak-anak yang rajin menggambar bentuk geometri serta memberi kesempatan anak bereksperimen dengan fotografi. Bahkan, mereka bisa manfaatkan video gim. Menurutnya, kecerdasan spasial bisa memfasilitasi anak dalam mempercepat literasi geografis secara lebih baik.
 
Sementara, Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah Karangkajen Yogyakarta, Novia Nuryany mengatakan pengenalan edukasi ramah anak di sekolah dapat dilakukan dengan melakukan pendampingan pengembangnan minat dan bakat sesuai karakter masing-masing siswa. Praktik edukasi literasi spasial dapat dilakukan dengan penggunaan gambar-gambar diagram peta ilustrasi, pengamatan desain detail sketsa demonstrasi. 
 
"Selain itu, anak-anak diajak membuat kerajinan tangan proyek mind mapping, dan analisis cara kerja, cara gerak, model tiruan hubungan antar bagian," kata Novia.
 
Baca: Panduan Isolasi Mandiri pada Anak yang Terpapar Covid-19
 
Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Elvi Hendrani mengatakan, anak-anak harus mendapatkan pengetahuan dan pengembangan minat dan bakat meski dalam situasi pandemi. Satuan pendidikan harus mampu menerapkan program Sekolah Ramah Anak (SRA) baik dalam pendidikan formal, nonformal, dan informal agar mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak. 
 
"Sekitar 12,6 persen dari penderita covid adalah anak-anak. Jangan sampai pembelajaran tatap muka nantinya menjadi klaster sehingga perlu ada satgas di sekolah sebagai satuan standarisasi prokes," kata Elvi.
 
Pembelajaran daring dari rumah, menurutnya, juga memberikan dampak negatif bagi anak-anak karena orang tua tidak mengetahui cara mendampingi anak-anak saat belajar daring. Menurut data dari Kementerian PPA, selama masa pandemi, banyak anak-anak yang mengalami korban kekerasan selama belajar di rumah.
 
"Angkanya  masih sangat tinggi karena para orang tua kesal dan tidak tahu mendampingi anak-anak saat belajar. Dalam komponen belajar ramah anak, satuan pendidikan perlu mengawal dan membantu orang tua bagaimana cara mendampingi anak dalam proses belajar," ujar Elvi.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif