Bagus Putra Muljadi, Assistant Professor di Chemical and Environtmental Engineering Faculty of Enginering, University of Nottingham. Medcom.id/Citra Larasati.
Bagus Putra Muljadi, Assistant Professor di Chemical and Environtmental Engineering Faculty of Enginering, University of Nottingham. Medcom.id/Citra Larasati.

Jurus Jitu Berkorespondensi dengan Profesor di Luar Negeri

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 15 Agustus 2019 19:08
Jakarta: Ratusan bahkan ribuan beasiswa luar negeri ditawarkan kepada pelajar Indonesia setiap tahunnya, namun sayang tidak banyak pelajar yang mampu menembus kesempatan emas tersebut. Selain faktor terbentur kemampuan bahasa asing, ternyata ada persoalan sepele lain yang kerap menghambat mereka, yakni lemahnya kemampuan berkorespondensi.
 
Untuk mendapatkan beasiswa, biasanya para pencari beasiswa, terutama jenjang S2 dan S3, diharuskan mengantongi Letter of Acceptance (LoA) atau surat penerimaan dari kampus yang dituju. Surat tersebut dikeluarkan oleh perguruan tinggi, sebagai tanda bahwa pelamar sudah berstatus diterima di universitas yang dituju.
 
LoA itu sendiri bisa didapat, jika pendaftar memenuhi syarat penerimaan di suatu universitas. Salah satunya syarat nilai akademik, seperti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal yang ditetapkan oleh pemberi beasiswa dan sejumlah berkas lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun terkadang, nilai akademik bukanlah segalanya untuk menembus perguruan tinggi di luar negeri. Terutama jika pelamar beasiswa dapat "memikat" perhatian salah satu profesor di perguruan tinggi luar negeri, maka bisa dipastikan tiket masuk kuliah di luar negeri pun dapat dengan mudah didapat.
 
Untuk berkomunikasi dengan profesor di kampus luar negeri, biasa dilakukan dengan berkorespondensi melalui surat elektronik (e-mail). Namun sayangnya, tidak banyak dari mahasiswa Indonesia yang cakap berkorespondensi, sehingga jalur ini pun sering gagal ditempuh untuk mendapatkan LoA.
 
Baca:Menjadi Agen Knowledge Exchange untuk Indonesia
 
Kondisi ini diakui oleh ilmuwan diaspora Indonesia, Bagus Putra Muljadi, yang saat ini menjadi Asisten Profesor di Nottingham University, Inggris. "Jarang sekali orang kita yang menguasai kemampuan berkorespondensi yang baik. Padahal di dunia akademik kemampuan menulis sangat penting," kata Bagus, saat ditemui di FX Sudirman, Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2019.
 
Bagus yang sangat biasa-biasa saja dalam nilai akademik ini mengakui, salah satu resep suksesnya menembus perguruan tinggi yang masuk 100 terbaik dunia itu justru berkat kecakapannya dalam menulis. "Lulus S1 di ITB nilai saya biasa-biasa saja, IPK hanya sekitar 2,7, tapi kebetulan kalau disuruh menulis saya agak bagus, sehingga saat korespondensi mampu meyakinkan profesor di sana," ujar ilmuwan yang menyelesaikan gelar masternya di National Taiwan University ini.
 
Menurutnya, akademisi di luar negeri sangat menghargai kemampuan menulis akademik. Meskipun nilai akademik juga diakui Bagus cukup berperan, namun kemampuan berkorespondensi ini tak dapat dianggap sepele.
 
Melalui korespondensi dengan profesor langsung ini justru dapat mengantar calon mahasiswa lebih jauh pada peluang mendapatkan banyak kesempatan bagus di perguruan tinggi luar negeri. Tidak hanya untuk keperluan beasiswa, namun juga sejumlah dana hibah.
 
"Ibaratnya nilai 90 skala 100, tapi dari kampus yang ranking perguruan tinggi yang biasa-biasa saja, tentu akan sulit dinilai bobotnya. Sehingga mereka tidak punya waktu untuk mengecek kualitas nilai akademik satu persatu calon mahasiswa. Profesor-profesor ini orang yang sangat sibuk," terang lulusan Teknik Mesin ITB ini.
 
Untuk itu, berkorespondensi langsung dengan profesor sangat dianjurkan oleh Bagus sebagai jalur karpet merah menembus perguruan tinggi luar negeri. "Namun perlu juga diperhatikan, tidak semua korespondensi kita akan dibalas. Maka sangat penting memiliki kemampuan membuat surat yang eye catching," tegasnya.
 
Bagus pun kemudian berbagi ilmunya, bagaimana cara memikat profesor pada kesan pertama. Hal yang penting dilakukan adalah memastikan bahwa isi surat tidak bertele-tele.
 
"Buat surat yang pendek, padat, berisi. Kebanyakam mahasiswa kita kalau berkorespondensi itu terlalu banyak basa-basi," kata Bagus.
 
Baca:57 Ilmuwan Diaspora Diundang Mudik
 
Sebelumnya, pastikan juga memperkenalkan diri dengan santun. "Menyombongkan" diri, kata Bagus, bukanlah satu hal yang haram dilakukan saat saat bersurat dengan profesor. "Perkenalkan diri secara singkat, sebutkan kelebihan-kelebihan kita. Hal yang bombastik dan menarik perhatian letakkan di atas, itu refleksi kepercayaan diri kita," sebutnya.
 
Bagus juga mengingatkan, agar meletakkan hal-hal yang menjadi inti surat di bagian atas surat, bukan di tubuh atau bahkan akhir surat. "Langsung sebutkan masalah apa yang dihadapi profesor dalam risetnya, lalu sebutkan kita punya solusi yang ia butuhkan, sebut penyelesaiannya apa saja secara singkat dan padat," terang dia.
 
Di era revolusi industri 4.0 informasi mengenai riset dan publikasi para profesor di seluruh dunia dapat diketahui dengan menelusurinya secara daring. Hal itu akan mempermudah menemukan profesor yang cocok dengan bidang penelitian yang kita kuasai.
 
"Misalnya, Saya Bagus Putra Muljadi, mahasiswa Indonesia yang bagus. Percayalah jika saya dapat masuk ke dalam tim Profesor, maka tim riset Profesor akan menjadi kuat dan sebagainya, masukkan saja kelebihan-kelebihan kita dengan redaksional yang runut dan enak dibaca. Karena kemampuan menulis seseorang itu cerminan cara berpikirnya," tandas Bagus.
 
Tidak hanya dalam berkorespondensi, kemampuan menulis juga sangat strategis dalam menembus berbagai proyek hibah. Ia lantas berbagi cerita, ketika ia melamar di Nottingham University hanya bermodal 10 paper publikasi ilmiah.
 
Namun kelebihan paper yang dimiliki Bagus adalah, Bagus menjadi penulis utama dalam sebagian besar paper tersebut. "Biasanya penelitian itu kan dikerjakan grup, tapi dalam tim itu biasanya saya menjadi penulis utamanya. Bahkan ada paper yang murni saya tulis sendiri," ungkapnya.
 
Hal tersebut ternyata ampuh untuk menyingkirkan pesaing-pesaing lainnya yang telah memiliki ratusan paper. "Jadi saat Panel, saya ditanya seberapa dewasa atau independent secara keilmuwan, dengan paper yang saya tulis itu, ditambah keragaman bidang yang saya geluti, cukup ampuh menunjukkan bahwa saya dewasa secara akademik, tidak bergantung pada orang lain," terangnya.
 
Bagus juga menjelaskan, di Inggris kedewasaan secara akademik penting untuk modal memenangkan dana hibah. "Universitas di sana kan uangnya dari industri dan dana hibah," terangnya.
 
Bagus Putra Muljadi, merupakan ilmuwan diaspora Indonesia yang saat ini menjadi Assistant Professor di Chemical and Environtmental Engineering Faculty of Enginering, University of Nottingham.
 
Kedatangan Bagus ke Indonesia kali ini adalah untuk memenuhi undangan Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti di kegiatan Simposium Cendekiawan Kelas Dunia (SCKD) 2019. Acara SCKD ini dilaksanakan dari 18 hingga 25 Agustus 2019 mengundang 57 ilmuan diaspora Indonesia yang tersebar di 15 negara di dunia.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif