Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Masukan Epidemiolog UGM Terkait Rencana Pembukaan Sekolah

Pendidikan Virus Korona sekolah Pendidikan Tinggi covid-19 UGM
Arga sumantri • 03 Desember 2020 11:42
Yogyakarta: Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria Wiratama, menyampaikan, keputusan untuk memulai pembelajaran tatap muka di sekolah perlu melibatkan sejumlah pihak. Pelibatan mulai dari dinas pendidikan, dinas kesehatan, dan juga pakar epidemiologi.
 
Khusus pelibatan epidemiolog, kata dia, diperlukan untuk membantu merumuskan langkah-langkah yang perlu diambil di masing-masing daerah, mulai dari asesmen kesiapan, hingga manipulasi infrastruktur. Sebab, pengambilan keputusan ini tidak cukup didasarkan pada zonasi risiko covid-19.
 
"Zonasi kurang bagus akurasinya, perlu ditambah dengan parameter lain seperti positivity rate juga," terang Bayu mengutip siaran pers UGM, Kamis, 3 Desember 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Bayu, positivity rate diharapkan berada di bawah angka lima persen. Namun, indikator ini perlu dilihat dari masing-masing daerah, bukan indikator secara nasional. "Dan ini salah satunya selain jumlah yang di tracing, juga jumlah kasus aktif, jumlah kasus baru, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit, dan lainnya," ungkap Bayu.
 
Baca: Vaksin Merah Putih Berpotensi Diekspor
 
Menurut dia, keputusan pemerintah memperbolehkan pembelajaran tatap muka pada Januari 2021, belum tepat jika melihat covid-19 di Indonesia secara umum saat ini. Namun, ia menyebut bahwa untuk dapat menakar kesiapan, perlu dilihat dari kondisi di setiap provinsi, kabupaten, atau kota.
 
"Karena ada daerah yang memang kasusnya dari awal sedikit dan tergolong bagus, mungkin di situ bisa dipertimbangkan," jelasnya.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif