Emil Dardak Berbagi Tips Mahasiswa tak Di-<i>DO</i>
?Bupati Trenggalek Emil Dardak saat menemui warga di RSUD Trenggalek, Medcom.id - Ririn
Jakarta: Masa kuliah memang menyenangkan. Seolah-olah, mahasiswa bisa melakukan banyak hal dengan bebas. Tapi bila terlena, bisa-bisa kuliah terbengkalai. Hingga akhirnya, pihak kampus memutuskan mahasiswa tersebut di-drop out (DO) alias dikeluarkan.

Emil Elestianto Dardak menyayangkan bila mahasiswa harus di-DO. Pria yang kini menjabat sebagai Bupati Trenggalek, Jawa Timur, mempertanyakan alasan mahasiswa terpaksa di-DO. Apakah sengaja atau tidak sengaja?


"Ya kenapa sih harus DO. Jangan sampailah seperti itu," ujar Emil saat berbincang dengan Medcom.id di rumah dinasnya di Pendopo Trenggalek, beberapa waktu lalu. Emil mengakui begitu menyenangkan saat berstatus sebagai mahasiswa. Ia pun merasakan hal demikian saat menjadi mahasiswa baru. 

"Bayangannya dulu, waktu saya SMA, anak kuliah itu seru lho. Saya iri melihat sepupu-sepupu yang kuliah," ungkap Emil.

Tapi, bukan berarti momen menyenangkan itu membuat mahasiswa lupa diri. Sebab, mahasiswa sudah harus bisa bertanggung jawab.

Emil mengatakan ia pun berorganisasi saat masih kuliah. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa. Namun, ia harus berjuang untuk membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan kesenangan.

"Saat berada di kelas, jangan melamun. Jangan mengobrol. Dengarkan materi dari dosen. Bila ada yang tak dimengerti, manfaatkan waktu itu untuk bertanya ada dosen. Cara itu jauh lebih gampang ketimbang bolak-balik baca buku materi. Itu lebih menghemat waktu lho," lanjut Emil berbagi tips pada mahasiswa agar tak harus di-DO. 

Bukan sekadar saran, Emil membuktikan tipsnya. Saat ia masih berusia 17 tahun, Emil menjadi konsultan untuk Bank Dunia. Di usia 22 tahun, Emil meraih gelar doktor termuda lulusan Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang.

"Alhamdulillah IPK (indeks prestasi kumulatif) 4," ungkap pria yang kini berstatus sebagai suami dari Arumi Bachsin tersebut.

Bukan pula berarti ia melupakan kesenangan jiwa mudanya. Ia juga berlibur layaknya anak-anak muda lainnya. Tapi, ia berlibur di akhir pekan.

"Berlibur selama dua hari sudah cukuplah," kata ayah dua anak itu. 

Emil tak mempermasalahkan mahasiswa untuk berlibur atau bersenang-senang. Yang penting, pesannya, kegiatan itu tak mengganggu jadwal kuliah.

"Jangan sampai saat masuk kelas masih mengantuk," pesan Emil pada mahasiswa-mahasiswa Indonesia.




(RRN)