Pandangan itu disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Fauzan Adziman. Menurut dia, pendidikan Indonesia perlu bergerak dari pendekatan yang seragam atau template-based menuju sistem yang lebih personal atau personalized-based.
"Kalau bisa kita membangun sistem yang berbasis minat, menurut saya itu menjadi kunci," kata Fauzan dalam di kanal YouTube Grace Tahir dikutip Sabtu, 18 Juli 2026.
| Baca juga: Efek Luar Angkasa pada Otak Astronaut, Picu Penyumbatan Darah hingga Pikun |
Ia menilai tidak semua peserta didik dapat berkembang maksimal melalui kurikulum yang sama. Setiap anak memiliki kekuatan yang berbeda sehingga sistem pendidikan seharusnya mampu mengenali dan mengembangkannya sejak dini.
Fauzan mengatakan selama ini kemampuan siswa masih banyak diukur melalui indikator akademik yang seragam. Padahal, anak yang terlihat biasa saja di satu bidang belum tentu memiliki kemampuan yang sama di bidang lainnya.
"Yang rata-rata itu belum tentu rata-rata. Bisa jadi dia biasa saja di pelajaran yang diujikan, tetapi ternyata luar biasa di bidang lain," ujarnya.
Ia mengibaratkan potensi manusia seperti energi yang tidak terbatas. Tapi energi tersebut juga perlu diarahkan ke tempat yang tepat agar menghasilkan manfaat maksimal.
"Mungkin dia tidak menonjol di matematika, tetapi hebat di olahraga. Mungkin bukan di fisika, tetapi luar biasa di seni. Tidak semua orang cocok dengan template yang sama," katanya.
Karena itu, menurut Fauzan, pendidikan semestinya tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Tetapi juga membantu peserta didik menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan dirinya.
| Baca juga: Ketemu Rektor dan Guru Besar, Bahlil Minta Kampus 'Uji' Kebijakan ESDM di KSTI 2026 |
Dalam pandangan Fauzan, sejumlah negara pun telah lebih dahulu mengembangkan sistem pendidikan yang memberi ruang lebih besar terhadap minat peserta didik. Ia mencontohkan negara-negara Nordik seperti Finlandia yang mulai menerapkan pendekatan pembelajaran lebih personal.
Sementara di University of Oxford, tempat ia pernah menjadi staf akademik selama lebih dari satu dekade juga memiliki visi yang sama. Mahasiswa di Oxford kata dia, didorong memiliki keleluasaan menentukan arah pengembangan kompetensi sesuai tujuan karier mereka.
"Yang ingin dicapai itu sebetulnya pendidikan yang lebih personalize. Anak yang kemampuannya tinggi diberikan tantangan yang lebih tinggi. Yang lain juga dibimbing sesuai kebutuhannya," ujarnya.
Meski demikian, Fauzan menilai pendekatan tersebut tidak bisa langsung diterapkan begitu saja di Indonesia. Hal ini dikarenakan perbedaan jumlah penduduk dan karakteristik sistem pendidikan.
"Indonesia sangat besar. Karena itu kita tidak bisa menyalin begitu saja sistem negara lain. Yang perlu kita lakukan adalah mengambil prinsip baiknya dan menyesuaikannya dengan kondisi Indonesia," katanya.
Menurut Fauzan, sistem pendidikan nasional tetap membutuhkan standar bersama agar kualitas pendidikan merata. Namun, pada saat yang sama pemerintah juga harus memberi ruang bagi peserta didik yang memiliki potensi tertentu untuk berkembang lebih cepat.
"Harus ada keseimbangan. Kita tetap meningkatkan rata-rata kualitas pendidikan, tetapi juga memberi ruang bagi mereka yang memiliki potensi luar biasa untuk berkembang lebih jauh," ujarnya.
Lebih lanjut, Fauzan mengatakan perubahan pendekatan pendidikan juga didorong oleh kebutuhan dunia kerja yang semakin dinamis. Selama membangun perusahaan teknologi berbasis riset di Inggris, ia melihat banyak perusahaan tidak lagi hanya mencari lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang memahami kekuatan dirinya dan mampu beradaptasi dengan perubahan.
"Kalau kita terus menggunakan template yang sama untuk semua orang, potensi mereka tidak akan maksimal. Dunia kerja sekarang membutuhkan kemampuan yang jauh lebih beragam," katanya.
Karena itu, ia berharap pendidikan Indonesia mulai memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk mengeksplorasi minatnya sejak dini. "Sistem yang berbasis minat menurut saya akan membuat lebih banyak anak berkembang sesuai potensinya. Itu yang perlu kita bangun ke depan," ujar Fauzan.
| Baca juga: Mendiktisaintek Minta Kampus 'Turun Gunung' di 8 Program Prioritas Nasional, dari Vaksin TBC hingga Giant Sea Wall |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda