RT Lamp LIPI. Foto: Antara/Muhammad Iqbal
RT Lamp LIPI. Foto: Antara/Muhammad Iqbal

Metode RT Lamp Inovasi LIPI, Mempercepat Uji Swab Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian tes virus korona
Arga sumantri • 12 Oktober 2020 15:31
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menemukan formula deteksi virus korona (covid-19) dengan metode Reverse Transcription Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT Lamp). Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang Brodjonegoro menyebut inovasi LIPI ini bisa menjadi alat rapid test sekaligus swab test covid-19.
 
"Rapid swab test ini tentunya juga bisa menjadi solusi bagi rumitnya testing yang menggunakan PCR (Polymerase Chain Reaction)," kata Bambang dalam rapat terbatas laporan Komite Penanganan Covid-19 secara virtual, Senin, 12 Oktober 2020.
 
Bambang mengatakan, swab test biasanya memakan waktu lama dan membutuhkan laboratorium. Menggunakan RT Lamp, kata dia, tes swab bisa dilakukan dengan waktu yang lebih cepat, yakni di bawah satu jam dan tanpa menggunakan laboratorium Bio Safety Level (BSL) 2.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jauh lebih cepat, lebih murah, dan juga tingkat akurasinya sangat bisa dipertanggungjawabkan," ujarnya.
 
RT Lamp jadi salah satu inovasi yang dilaporkan Bambang kepada Presiden Joko Widodo untuk membantu screeningcovid-19 yang lebih akurat. Mengutip laman LIPI, RT Lamp dikembangkan tim peneliti Bidang Biokimia/Farmasi LIPI bekerja sama dengan PT Biosains Medika Indonesia.
 
Kit RT Lamp yang dikembangkan terdiri dari enzim (reverse transcriptase, polymerase), reagent mix (Primer, dNTP, MgSO4), larutan buffer, kontrol positif dan kontrol negatif. Sampel pasien yang digunakan adalah ekstrak RNA pasien. Reaksi Lamp berlangsung pada suhu konstan, sehingga dapat menggunakan alat sederhana yang lazim ada di laboratorium seperti inkubator, water bath, atau heat-block.
 
Baca:Menristek: Rapid Test Kurang Bisa Diandalkan Deteksi Covid-19
 
Peneliti LIPI Bidang Biokimia/Farmasi Dr. Tjandrawati Mozef menuturkan, dirinya mempunyai inisiatif untuk mengembangkan sistem alternatif untuk mendeteksi RNA virus SARS-Cov-2, karena adanya kebutuhan dan urgensi terkait sistem deteksi yang ada menggunakan RT-PCR. Sementara, alat RT-PCR yang ada di Indonesia sangat terbatas, dan hanya terdapat di lab tertentu mengingat harga alat tersebut yang mencapai ratusan juta rupiah.
 
Teknik deteksinya, kata dia, reagen-reagen disiapkan untuk menguji sample yang diperoleh dari hasil swab. "Setelah itu, diinkubasi selama satu jam dengan suhu 60 0C," jelas Tjandrawati.
 
Kemudian, hasil yang diperoleh dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negatif yang disediakan dalam kit. Apabila sampel tersebut mengandung gen virus, maka terjadi amplifikasi dari gen virus tersebut yang kemudian dideteksi baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sistem yang dikembangkan oleh Tjandrawati dan tim adalah berdasarkan kekeruhan dan berdasarkan emisi fluoresensi.
 
"Bila tampak adanya kekeruhan atau emisi fluoresensi, maka sampel tersebut positif mengandung gen virus SARS-Cov-2" ungkap Tjandrawati.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif