Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, membenarkan bahwa kepulan asap karhutla adalah dalang di balik perubahan warna sang surya. Partikel aerosol dalam asap secara langsung berinteraksi dengan cahaya matahari dan mengubah cara mata kita menangkapnya.
“Sederhananya, asap bertindak seperti filter optik alami. Sebagian cahaya matahari dihamburkan dan diserap oleh partikel asap, sehingga cahaya yang sampai ke mata kita relatif lebih kaya warna merah dan jingga,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.
Dalam kondisi normal, molekul udara sangat pintar menghamburkan cahaya bergelombang pendek seperti biru, alasan mengapa langit siang kita berwarna biru. Namun, invasi asap karhutla merusak harmoni tersebut.
“Ketika asap karhutla menambah konsentrasi aerosol di atmosfer, interaksi cahaya dengan partikel tersebut menjadi lebih kompleks. Ukuran, bentuk, dan komposisi partikel seperti jelaga, abu, serta material organik hasil pembakaran ikut menentukan bagaimana cahaya matahari diteruskan, dihamburkan, atau diserap,” urainya.
Visual matahari merah ini akan mencapai puncak dramatisnya saat terbit atau senja. Saat berada di ufuk (horizon), cahaya harus melewati rute atmosfer yang jauh lebih panjang ketimbang saat matahari tepat berada di atas kepala.
“Semakin panjang lintasan cahaya di atmosfer, semakin besar peluang cahaya berinteraksi dengan molekul udara dan aerosol. Karena itu, warna merah atau jingga biasanya lebih kuat pada pagi dan sore hari,” ujarnya.
Jangan Terkecoh Visual, Cek Data Resmi
Meski langit tampak mengerikan dengan matahari yang memerah, Givo menegaskan bahwa warna tersebut tidak bisa dijadikan patokan mutlak seberapa beracun udara yang kita hirup di permukaan tanah.“Asap yang berada cukup tinggi di atmosfer bisa membuat matahari tampak merah, tetapi belum tentu konsentrasi PM2.5 di permukaan tinggi. Jadi, warna matahari tidak bisa dijadikan satu-satunya alat ukur kualitas udara,” katanya.
Berbagai faktor lain seperti ketinggian lapisan asap, kelembapan, hingga arah angin sangat memengaruhi visualisasi ini. Oleh karena itu, validasi melalui aplikasi atau situs pemantau kualitas udara resmi tetap menjadi langkah yang paling bijak.
“Jika matahari merah disertai kabut asap, jarak pandang menurun, dan adanya sumber karhutla di sekitar atau arah datang angin, masyarakat sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dan memeriksa informasi kualitas udara resmi,” sebutnya.
Sebagai penutup, Givo memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang tergiur mengabadikan momen ini atau sekadar penasaran melihatnya secara langsung. “Meskipun tampak redup atau merah karena asap, pengamatan langsung terhadap matahari tetap berbahaya,” pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda