Kampus UGM, UGM/Humas.
Kampus UGM, UGM/Humas.

Pakar UGM: Jangan Gampang Percaya Klaim Obat Covid-19

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian Hadi Pranoto
Citra Larasati • 06 Agustus 2020 09:39
Jakarta: Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zullies Ikawati, Ph.D., Apt., mengimbau masyarakat agar jangan mudah percaya terhadap klaim penemuan obat covid-19. Sebab proses menemukan obat bukan sesuatu yang mudah.
 
Imbauan Zullies ini disampaikan, merespons munculnya klaim penemuan antibodi yang disebut mampu mencegah dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi covid-19. “Jika ada berita-berita yang mengklaim penemuan obat covid-19, jangan cepat percaya, karena penemuan obat covid-19 tidak semudah itu. Carilah info-info berimbang pada lembaga-lembaga yang terpercaya seperti Badan POM,” ucap Zullies, dalam keterangan tertulis, Kamis, 6 Agustus 2020.
 
Lebih lanjut ia menerangkan, klaim penemuan antibodi covid-19 yang berasal dari herbal juga merupakan istilah yang tidak tepat. Karena antibodi sendiri adalah suatu protein yang dibentuk oleh sistem imun, ketika menghadapi paparan antigen/patogen, bisa berupa virus, bakteri, jamur, dan lainnya, termasuk terhadap virus covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jadi kalau ada orang yang mengklaim menemukan atau menciptakan antibodi, tentu itu hal yang sangat tidak tepat,” imbuhnya.
 
Baca juga: Bila Terbukti Gelar Profesor Palsu, Hadi Pranoto Terancam Dipenjara
 
Antibodi, terangnya, adalah senyawa yang dihasilkan oleh sel-sel imun, yaitu oleh sel limfosit B yang bekerja melawan antigen. Dalam hal covid-19, yang bisa disebut sebagai produk antibodi adalah plasma convalescent yang berasal dari pasien covid-19 yang sudah sembuh.
 
“Pasien covid-19 yang sudah sembuh akan memiliki antibodi terhadap covid-19, nah ini yang kemudian diisolasi plasma darahnya lalu ditransfusikan kepada pasien sakit, di mana plasma darah ini mengandung antibodi covid-19,” terang Zullies.
 
Dalam konteks lain, suatu antibodi bisa diisolasi dari makhluk hidup dan mungkin dikemas menjadi satu sediaan, misalnya Anti Bisa Ular (ABU). Serum anti bisa ular dibuat dengan cara memberikan bisa ular ke dalam tubuh hewan, seperti kuda atau domba.
 
Proses penemuan vaksin dan obat, papar Zullies, adalah proses yang berbeda. Obat bisa berasal dari senyawa kimia atau diisolasi dari herbal, atau sumber lain.
 
Obat memiliki target tertentu pada tubuh manusia. Namun sebelum dicobakan ke manusia, calon obat harus menjalani dulu serangkaian uji preklinis pada hewan atau pada sel, selain itu juga harus diuji keamanannya.
 
Sedangkan vaksin sendiri bukanlah obat, melainkan suatu senyawa berupa antigen yang lemah yang bekerja memicu produksi antibodi pada tubuh orang yang divaksin.
 
Untuk vaksin covid, maka bisa dibuat antigen berupa keseluruhan virus yang dilemahkan atau bagian dari virus yang kemudian ditempelkan pada virus pembawa lain, atau berupa mRNA virus SARSCoV2. Orang yang menerima vaksin ini akan menghasilkan antibodi terhadap virus covid-19, sehingga menjadi lebih kebal dan tidak mudah terinfeksi.
 
“Penelitian tentang vaksin di Indonesia sudah dimulai di Lembaga Eijkman bekerja sama dengan PT Bio Farma, tetapi prosesnya masih panjang untuk sampai ke pasar,” katanya.
 
Sebelumnya, musisi Erdian Aji Prihartanto atau kerap disapa Anji, mengunggah sebuah video terkait obat covid-19 dalam akun YouTube Dunia Manji. Video itu menuai kontroversi dan menjadi perbincangan di lini masa.
 
Pasalnya, video yang diunggah Sabtu 1 Agustus 2020 itu, mengklaim obat herbal sebagai pencegah covid-19. Obat bernama “Antibodi Covid-19” itu diklaim seorang yang mengaku profesor dan pakar mikrobiologi, Hadi Pranoto.
 
Hadi menjadi narasumber dalam video tersebut. Namun video itu kini telah dihapus oleh pihak YouTube setelah ramai-ramai dilaporkan oleh warganet.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif