Aktivitas penelitia farmasi. Foto: Dok. Unpad
Aktivitas penelitia farmasi. Foto: Dok. Unpad

Tak Bisa Asal Klaim Obat Covid-19, Ini Sebabnya

Pendidikan Virus Korona Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 05 Agustus 2020 09:09
Jakarta: Sejumlah peneliti saat ini berlomba untuk menemukan anticovid-19 atau obat covid-19 yang kini virusnya tengah mewabah dunia. Namun, setiap penemuan ini harus didukung dengan pengujian yang baik.
 
Direktur Registrasi Obat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Lucia Rizka Andalusia menjelaskan, ada satu tahapan yang wajib dilakukan sebelum bisa menemukan obat terapi tersebut. Tahapan tersebut yaitu uji klinis untuk membuktikan bahwa obat tersebut memiliki respons terhadap covid-19.
 
“Penemuan suatu obat tidak hanya dibuktikan melalui testimoni, tetapi harus ada evidence yang terstruktur. Jika hal tersebut tidak dapat dibuktikan, maka klaim obat tidak bisa dikatakan menyembuhkan,” kata Lucia dalam keterangan tertulis, Rabu, 5 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga:Bila Terbukti Gelar Profesor Palsu, Hadi Pranoto Terancam Dipenjara
 
Lucia mengatakan, salah satu hasil uji klinis yang telah dilakukan adalah pada Dexamethasone. Beberapa waktu lalu, Dexamethasone diklaim dapat digunakan untuk terapi covid-19.
 
“Namun setelah melalui uji klinis, Dexamethasone yang digunakan pada pasien mild hingga moderate terbukti memperburuk kondisi,” kata Lucia.
 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri selalu memperbarui informasi seputar kandidat vaksin covid-19. Saat ini, terdapat 142 kandidat vaksin covid-19 di dunia. Namun, kata Lucia, WHO lebih mengutamakan 24 kandidat, karena sudah mencapai tahap uji klinis.
 
Baca juga:Klaim Obat Covid-19 Hadi Pranoto, Kemenristek Minta Masyarakat Hati-hati
 
Salah satu kandidat adalah vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan Sinovac Biotech asal Tiongkok. Vaksin ini sudah akan melaksanakan uji klinis fase III di sejumlah negara.
 
Indonesia sendiri termasuk salah satu negara yang akan melaksanakan uji klinis tersebut. Uji klinis dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Unpad bekerja sama dengan PT Bio Farma.
 
“Adapun dua kandidat lain vaksin covid-19 uji klinis dan transfer teknologi berkolaborasi dengan industri farmasi nasional, yaitu BCHT (Sinopharm) dan Kalbe Farma (Genexine),” kata Lucia.
 
Guru Besar Fakultas Farmasi Unpad, Keri Lestari menjelaskan, uji klinis dilakukan pada terapi farmakologi serta terhadap senyawa yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Hal ini dilakukan mengingat penguatan imunitas tubuh merupakan salah satu prinsip protokol kesehatan covid-19.
 
“Hal ini menyebabkan herbal di Indonesia sudah dilakukan uji klinik untuk imunomodulator,” kata Keri.
 
Baca juga:659 Relawan Siap Jalani Uji Klinis Vaksin Covid-19
 
Ia mengungkapkan, pada Konsorsium Nasional Multicenter Clinical Trial Indonesia, sudah dilakukan uji klinis terhadap obat-obatan yang sudah ada di pasaran. Selain obat-obatan penguat imun, suplemen herbal, dan jamu-jamuan juga sudah ada yang dilakukan uji klinis.
 
Selain itu, ada potensi dari Quinine Sulfate dibandingkan klorokuin dan hidrosiklorokuin dalam menghambat aktivitas SARS-CoV-2 secara in vitro. Hal ini menjadi keuntungan bagi Indonesia karena ini merupakan bahan alam dari Indonesia.
 
"Kemudian di Konsorsium Ikatan Apoteker Indonesia, dilakukan uji klinis pada Soman2, OB Herbal, VipAlbumin, dan TehDia,” sebut Keri.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif